Kls : D Eksekutif
Pro.Studi: Ekonomi manajemen
UNANDA (Universitas Andi Djemma)Palopo
PERENCANAAN DAN MANAJEMEN RITEL
1. Gambaran Umum Tentang Ritel
Pengertian Retail
Retail adalah penjualan dari sejumlah kecil komoditas kepada konsumen.
Retail berasal dari bahasa Perancis yaitu " Retailer" yang berarti " Memotong menjadi kecil kecil" (Risch, 1991 ).
Retail berasal dari bahasa Perancis yaitu " Retailer" yang berarti " Memotong menjadi kecil kecil" (Risch, 1991 ).
Sedangkan
menurut Gilbert (2003) Retail adalah Semua usaha bisnis yang secara
langsung mengarahkan kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen
akhir berdasarkan organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari
distribusi
Dalam kamus Bahasa Inggris - Indonesia, Retail bisa juga di artikan sebagai "Eceran"
Pengertian Retailing adalah semua aktivitas yang mengikut sertakan pemasaran barang dan jasa secara langsung kepada pelanggan
Pengertian Retailer adalah
semua organisasi bisnis yang memperoleh lebuh dari setengah hasil
penjualannya dari retailing ( lucas, bush dan Gresham, 1994)
Klasifikasi Retail
Menurut
Pintel dan Diamond (1971), Retail dapat di klasifikasikan dalam banyak
cara, sebagai contoh Retail dapat di kelompokkan sesuai dengan aktivitas
penjualan barang berdasarkan sbb :
- Retail Kecil
Bisnis
Retail kecil di gambarkan sebagai retailer yang berpenghasilan di bawah
$500 pertahun. Pemilik retail pada umumnya bertanggung jawab penuh
terhadap seluruh penjualan dan manajemen.
Biasanya kebanyakan pemilik toko pada bisnis retail kecil ini dimiliki oleh secara individu (Individual Proprietorship)
- Retail Besar
Pada
saat ini industri Retail di kuasai oleh organisasi besar, organisasi
tersebut meliputi : Departemen Store - Chain organization (organisasi
berantai), Supermarket, Catalog Store, Warehouse, Outlet dan Online
Store (Toko Online )
Departemen
Store merupakan salah satu dari retailer besar dimana menawarkan
berbagai macam jenis produk / barang, tingkat harga dan kenyamanan dalam
berbelanja.
2. SALURAN PEMASARAN RITAIL
Yang
membedakan Retail Multilevel & Retail Konvensional adalah strategi
pemasarannya, strategi strategi yang di implementasikan tujuannya
adalah, tidak lebih tidak kurang yaitu menyediakan produk yang
diproduksi dari pabrik kepada konsumen akhir.
Strategi
yang diaplikasikan oleh Retail konvensional adalah melalui media iklan
secara gencar melalui media massa / radio / televisi. untuk
mempromosikan produknya, oleh sebab panjangnya proses distribusi yang
dilaluinya.
Strategi
yang diaplikasikan oleh Retail Multilevel adalah melalui individu per
individu, yang dimana testimoni / positive word of mouth menjadi media
promosi utama Retail Multilevel, terkadang media media lain juga
digunakan, tetapi hal cara promosi yang paling utama tetap melalui
individu individu yang dissupport secara penuh oleh perusahaan ; dapat
melalui sampling produk, seminar / berpromosi pada komunitas komunitas
besar dan lain lain. Kedua jenis retail diatas sama sama memiliki
strategi pemasaran yang baik,
Memilih Saluran Distribusi
Perusahaan
harus mengetahui apa kemauan dan kebutuhan konsumen serta mengetahui
cara yang paling tepat untuk meraihnya. Perusahaan disini harus
memiliki orientasi pasar
Ada bebepa yang perlu dijadikan pertimbangan :
1. Tujuan Organisasi, kapabilitas serta sumber daya. Perusahaan yang meiliki produk mix banyak harus sedekat mungkin dengan end usernya dll.
2. Karakteristik Pasar, geografi semakin jauh jarak maka dibutuhkan perantara yang banyak juga, ukuran pasara, perilaku konsumenya dll.
3. Attribut Produk , apa perlu service apa nggak, penyimpanan, ukuran produk , kompleksitas dll.
4. Pengaruh lingkungan , seperti tingkat persaingan, teknologi dll Competitio, teknologi dll.
Ada tiga tipe startegi distribusi yang bisa kita gunakan :
1.Distribusi Intensive
Digunakan
untuk produk-produk convenience, dimana produk/ barang perlu tersedia
dimana saja (tersebar luas) serta tungkat utilitasnya tinggi (high
replacement). Disini perusahaan memandang ketersediaan sebagai faktor
utama yang mempengaruhi sales. Strategi ini berarti perusahaan melakukan
stocking produk di sebanyak mungkin. Sebagai contoh adalah soft drink,
gum, permen, dll. Produk-produk itu di jual di toko grosir, pompa bensin
sampai warung sebelah rumah.
- Distribusi Selektif
Sering
dipakai untuk produk-produk yang termasuk katagori shopping product,
ketika konsumen menghbiskan waktu, membandingkan serta memiliki
preferrensi tgertentu tgerhadap merk. Service terhadap konsumen
dianggap sangat perlu. Melalui selektif distribusi, maka perusahaan
menyediakan lebih dari satu, tetapi tidak banyak distribusor. Beberapa merkTelevisi, furniuture serta small appliance didistribusikan dengan cara ini..
- Distribusi Eklusif
Digunakan
untuk produk-produk yang termasuk dalam katagori specialty product,
dimana koinsumen memiliki preferensi merk yang kuat, frekuensi
poembelian produk jarang serta membutuhkan service tambahan. Dengan cara
ini perusahaan memiliki diustributor yang terbagats serta masing-masing
memiliki hak ekslusif untuk mendistriubuysikan proiduk perrusahaan di
wilayahnya masing-masing. Bias digunaka untuk poroduk-poroduk mobil,
pakain ekslusif..
2. PROSES PERENCANAAN DAN MANAJEMEN RITAIL
Dalam
memilih retail store, pembeli mempertimbangkan banyak hal. Faktor yang
diperhatikan adalah yang berkaitan dengan kebutuhan ekonominya. Di lain
pihak kebutuhan emosional (seperti gengsi) juga kadangkala mempengaruhi
pilihannya.
Faktor-faktor ekonomi yang relevan dalam memilih retail store antara lain meliputi:
1. Harga.
Ada
retail store yang memasang harga mati seperti supermarket dan
departement store) dan ada pula yang menetapkan harga fleksibel atau
dapat ditawar (seperti discount store).
2. Kemudahan
Kemudahan
parkir, bisa cepat pergi setelah membayar, dan mudah mencari barang
yang diinginkan (meliputi proses menemukan, membandingkan, dan memilih).
3. Kualitas produk yang ditawarkan.
4. Bantuan wiraniaga.
Apakah harus swalayan, membantu ecara pasif, atau membantu secara aktif.
5. Reputasi
Kejujuran dan kewajaran dalam jual beli
6. Nilai yang ditawarkan
Yaitu
perbedaan total customer value dan total customer cost. Total customer
value adalah sekumpulan manfaat yang diharapkan pelanggan dari produk
dan jasa, meliputi product value (misalnya keandalan, daya
tahan/keawetan, unjuk
kerja), service value (penyerahan barang, pelatihan, instalasi, perawatan, reparasi), personnel value (kompeten, responsif, empati, dapat dipercaya), dan image value (citra perusahaan). Sedangkan total customer cost terdiri dari harga yang dibayarkan,
biaya waktu, biaya tenaga, dan biaya psikis.
kerja), service value (penyerahan barang, pelatihan, instalasi, perawatan, reparasi), personnel value (kompeten, responsif, empati, dapat dipercaya), dan image value (citra perusahaan). Sedangkan total customer cost terdiri dari harga yang dibayarkan,
biaya waktu, biaya tenaga, dan biaya psikis.
7. Jasa-jasa khusus yang ditawarkan.
Pengiriman barang gratis, pembelian kredit dan bisa mengembalikan atau menukar barang yang sudah dibeli.
2 Proses Pembuatan Rencana
1. Menetapkan tugas dan tujuan
Antara
tugas dan tujuan tidak dapat dipisahkan, suatu rencana tidak dapat
difrmulir tanpa ditetapkan terlebih dahulu apa yang menjadi tugas dan
tujuannya. Tugas diartikan sebagai apa yang harus dilakukan, sedang
tujuan yaitu suatu atau nilai yang akan diperoleh.
2. Observasi dan analisa
Menentukan
factor-faktor apa yang dapat mempermudah dalam pencapaian tujuan
(Observasi) bila sudah diketahui dan terkumpul, maka dilakukan analisa
terhadapnya untuk ditentukan mana yang digunakan.
3. Mengadakan kemungkinan-kemungkinan
Faktor
yang tersedia memberikan perencanaan membuat beberapa kemungkinan dalam
pencapaian tujuan. Dimana kemungkinan yang telah diperoleh dapat diurut
atas dasar tertentu, misalnya lamanya penyelesian, besarbya biaya yang
dibutuhkan efisiensi dan efektivitas dan lain sebagainya.
4. Membuat sintesa
Sintesa
yaitu alternatif yang akan dipilih dari kemungkinan-kemungkinan yang
ada dengan cara mengawinkan sitesa dari kemungkinan-kemungkinan
tersebut. Kemungkinan-kemungkinan yang ada mempunyai
kelemahan-kelemahan.
Management Bay Objective ( MBO )
Pertama
kali diperkenalkan oleh Peter Drucker dalam bukunya The Practice of
Management pada tahun 1954. Management by objective dapat juga disebut
sebagai manajemen berdasarkan sasaran, manajemen berdasarkan hasil
(Management by Result), Goals management, Work planning and review dan
lain sebagainya yang pada intinya sama.
Management by objective menekankan pada pentingnya peranan tujuan dalam perencanaan yang efektif, dengan menetapkan prosedur pencapaian baik yang formal maupun informal, pertama dengan menetapkan tujuan yang akan dicapai dilanjutkan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan sampai selesai baru diadakan peninjauan kembali atas pekerjaan yang telah dilakukan. Kegiatan MBO singkatan dari management by objective yaitu proses partisipasi yang melibatkan bawahan dan para manajer dalam setiap tingkatan organisasi yang dirumuskan dengan bentuk misi atau sasaran, yang dapat diukur dimana penggunaan ukuran ini sebagai pedoman bagi pengoperasian satuan kerja.
Management by objective menekankan pada pentingnya peranan tujuan dalam perencanaan yang efektif, dengan menetapkan prosedur pencapaian baik yang formal maupun informal, pertama dengan menetapkan tujuan yang akan dicapai dilanjutkan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan sampai selesai baru diadakan peninjauan kembali atas pekerjaan yang telah dilakukan. Kegiatan MBO singkatan dari management by objective yaitu proses partisipasi yang melibatkan bawahan dan para manajer dalam setiap tingkatan organisasi yang dirumuskan dengan bentuk misi atau sasaran, yang dapat diukur dimana penggunaan ukuran ini sebagai pedoman bagi pengoperasian satuan kerja.
Sistem Management By Objective Yang Efektif
1.
Adanya komitmen para manajer tujuan pribadi dan organisasi, sehingga
dia harus berjumpa dengan bawahannya untuk memberikan penetapan tujuan
dan menilainya.
2.
Penetapan tujuan manajemen puncak yang dinyatakan dalam nilai tertentu
yang dapat diukur, sehingga antara manajer dan bawahan mempunyai gagasan
yang jelas tentang apa yang diharapkan oleh manajemen puncak, sehingga
dapat diketahui antara individu dengan tujuan organisasi secara
keseluruhan.
3.
Tujuan perseorangan, dimana antara manajer dan bawahan harus merumuskan
tujuan bersama dan tanggung jawab terhadap bagiannya secara jelas guna
memahami tentang apa yang akan dicapai.
4.
Perlunya partisipasi semua pihak, dimana semakin besar partisipasi dari
semua anggota, maka semakin besar tujuan yang akan tercapai.
5.
Otonomi dan implementasi rencana, disini bawahan dan manajer bebas
untuk mengembangkan dan mengimplementasikan program-program pencapaian
tujuannya.
6. Peninjauan kembali prestasi yang dilakukan secara periodik terhadap kemajuan tujuan.
Kebaikan dan Kelemahan MBO
Kebaikan dan Kelemahan MBO
Kebaikan : Kelemahan :
1. Mengetahui apa yang diharap-harapkan dari organisasi.
2. Membantu manajer membuat tujuan dan sasaran.
3. Memperbaiki komunikasi vertikal antara manajer dengan bawahan
4. Membuat proses evaluasi.
1. Kelemahan yang melekat pada proses MBO, dalam konsumsi waktu dan biaya yang besar.
2. Dalam hal pengembangan dan implementasi program-program MBO.
Unsur-unsur Efektivitas MBO
1. Agar MBO sukses maka manajer harus memahami dan mempunyai trampilan secara mengetahui kemanfaatan dan kegunaan dari MBO.
2.
Tujuan merupakan hal yang realistis dan mudah dipahami oleh siapapun
juga, sehingga tujuan ini sering digunakan untuk mengevaluasi prestasi
kerja dari manajer, apakah dia berhasil dalam tugasnya atau gagal.
3. Top manajer harus menjaga sistem MBO ini tetap hidup dan berfungsi sebagaimana mestinya.
4.
Tanpa partisipasi semua pihak tidaklah mungkin program MBO ini
berjalan, maka semua pihak harus mengetahui posisinya dalam hubungannya
dengan tujuan yang akan dicapai, umpan balik terhadapnya sangat berguna.
Bentuk-bentuk Pembuatan Keputusan ( Decision Making ) Pembuatan
keputusan yaitu proses serangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam
penyelesaian suatu masalah. Pembuatan keputusan ini dilakukan oleh
setiap jabatan dalam organisasi. Manajer akan membantu keputusan yang
berbeda dalam situasi dan kondisi yang berbeda pula. Bentuk keputusan
ini bisa berupa keputusan yang diprogram (Programmed decisions) atau
tidak, bisa juga dibedakan antara keputusan yang dibuat di bawah kondisi
kepastian, resiko dan ketidak pastian. Keputusan terprogram yaitu
keputusan yang dibuat menurut kebiasaan, aturan atau prosedur yang
terjadi secara rutin dan berulang-ulang. Contoh : penetapan gaji
pegawai, prosedur penerimaan pegawai baru, prosedur kenaikan jenjang
kepegawaian dan sebagainya. Keputusan tidak terprogram (non-programmed
decisions), yaitu keputusan yang dibuat karena terjadinya
masalah-masalah khusus atau tidak biasanya. Contoh: pengalokasian sumber
daya-sumber daya organisasi, penjualan yang merosot tajam, pemakaian
teknologi yang termodern, dan lain sebagainya. Keputusan dengan
kepastian, resiko dan ketidak-pastian, ini tergantung dari beberapa
aspek yang tidak dapat diperkirakan dan dipastikan sebelumnya, seperti
reaksi pesaing, perubahan perekonomian, perubahan teknologi, perilaku
konsumen dan lain sebagainya. Oleh karena itu ini terbagi dalam tiga
jenis situasi, yaitu : Kepastian (certainty), yaitu dengan diketahuinya
keaaan yang akan terjadi diwaktu mendatang, karena tersedianya informasi
yang akurat dan responsibility. Resiko (risk), yaitu dengan
diketahuinya kesempatan atau probabilitas setiap kemungkinan yang akan
terjadi serta hasilnya, tetapi informasi yang lengkap tidak dimiliki
oleh organisasi atau perusahaan. Ketidak pastian (uncertainty), dimana
manajer tidak mengetahui probabilitas yang dimiliki serta tidak
diketahuinya situasi yang akan terjadi diwaktu mendatang, karena tidak
mempunyai informasi yang dibutuhkan. Umumnya ini menyangkut keputusan
yang kritis dan paling menarik.
Proses Pembuatan Keputusan
1.
Pemahaman dan Perumusan Masalah Manajer harus dapat menemukan masalah
apa yang sebenarnya, dan menentukan bagian-bagian mana yang harus
dipecahkan dan bagian mana yang seharusnya dipecahkan.
2.
Pengumpuland an Analisa Data yang Relevan Setelah masalahnya ditemukan,
lalu ditentukan dan dibuatkan rumusannya untuk membuat keputusan yang
tepat.
3.
Pengembangan Alternatif Pengembangan alternatif memungkinkan menolak
kecenderungan membuat keputusan yang cepat agar tercapai keputusan yang
efektif.
4.
Pengevaluasian terhadap alternatif yang digunakan Menilai efektivitas
dari alternatif yang dipakai, yang diukur dengan menghubungkan tujuan
dan sumber daya organisasi dengan alternatif yang realistic serta
menilai seberapa baik alternatif yang diambil dapat membantu pemecahan
masalah.
5.
Pemilihan Alternatif Terbaik Didasarkan pada informasi yang diberikan
kepada manajer dan ketidak sempurnaan kebijaksanaan yang diambil oleh
manajer.
6.
Implementasi Keputusan Manajer harus menetapkan anggaran, mengadakan
dan mengalokasikan sumber daya yang diperlukan, serta memperhatikan
resiko dan ketidak puasan terhadap keputusan yang diambil. Sehingga
perlu dibuat prosedur laporan kemajuan periodic dan mempersiapkan
tindakan korektif bila timbul masalah baru dalam keputusan yang dibuat
serta mempersiapkan peringatan dini atas segala kemungkinan yang
terjadi.
7.
Evaluasi atas Hasil Keputusan Implementasi yang telah diambil harus
selalu dimonitor terus-menerus, apakah berjalan lancar dan memberikan
hasil yang diharapkan.
Keterlibatan
Bawahan Dalam Pembuatan Keputusan Keterlibatan bawahan dalam pembuatan
keputusan dapat bersifat resmi missal dengan pembuatan kelompok, bisa
juga bersifat tidak resmi missal dengan meminta gagasan dan saran-saran.
Pembuatan keputusan yang didasarkan pada sifat formal lebih efektif
karena banyak masukan-masukan pengetahuan yang lainnya. karakteristik
situasi keputusan dan gaya pembuatan keputusan manajemen akan
mempengaruhi dan menentukan apakah pembuatan keputusan dilakukan secara
kelompok atau tidak. Metode Kuantitatif Dalam Pembuatan Keputusan
Operasi organisasi semakin komplek dan mahal, sehingga semakin sulit dan
penting manajer dalam membuat rencana dan keputusan. Untuk itu
diperlukan bantuan berbagai teknik dan peralatan kuantitatif. Teknik dan
peralatan kuantitatif pembuatan keputusan dikenal dengan nama teknik
management science dan operations research. Riset operasi menggambarkan,
memahami, dan memperkirakan perilaku berbagai sistem yang komplek dalam
kehidupan manusia. Tujuannya menyediakan informasi yang akurat.
Sumber : www anneahira.com
2.sejarah/latar belakang manajemen ritel
Latar Belakang
Bisnis
ritel merupakan salah satu usaha yang memiliki prospek cukup baik.
Teruatam jika mengamati jumlah populasi penduduk Indonesia pada tahun
2010 yang diperkirakan mencapai kurang lebih 220 juta jiwa. Alhasil,
rasio keberadaan ritel khusunya ritel modern apabila diabdingkan dengan
total penduduk Indonesia masih menunjukkan kesenjangan yang cukup besar
(satu ritel masih harus melayani 500.000 jiwa).
Keberadaan
ritel-ritel tradisional memang masih cukup diperlukan dalam konteks
melayani segmen ekonomi bawah. Namun kemajuan teknoligi dan tuntutan
kebutuhan konsumen yang terus meningkat menjadi pendorong adanya
perubahan orientasi bisnis dalam lingkup bisnis ritel. Jika pada awalnya
banyak bisnis ritel yang cukup dikelola secara tradisional, tanpa
dukungan teknologi yang memadai, tanpa pendekatan manajemen modern dan
tanpa berfokus pada kenyamanan dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan.
Pergeseran
pola perilaku belanja pelangan yang terdeteksi dari sejumlah studi yang
dilakukan menunjukkan bahwa aktivitas belanja pelanggan tidak hany
dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan akan barang-barang keperluan hidup,
namun lebih mengarah pada terpenuhinya kebutuhan untuk berekreasi dan
berelasi. Kondisi inilah yang mendorong bisnis ritel tardisional mulai
harus peka menaggapi kebutuhan pelanggan yang belum terpemuhi (un met
need) jika mereka ingin tetap bertahan hidup dalam lingkungan persaingan
bisnis ritel yang semakin tajam. Bekal pemahaman terhadap konsep-konsep
pengelolaan ritel modern sangat penting untuk dipahami, mengingat
kegagalan dalam pengelolaan akan menumbulkan resiko kerugian yang cukup
besar. Sedangkan jika seorang pelaku bisnis ritel tetap bertahan dengan
pengelolaan ritel secara tradisional tidak memungkinkan untuk memiliki
keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bila dihadapkan dengan semakin
banyaknya ritel-ritel modern yang dikelola dengan modal yang cukup besar
maupun terjadinya perubahan pola belanja konsumen yang mempunyai
konsekuansi terhadap berubahnya kebutuhan mereka terhadap keberadaan
sebuah ritel seperti yang telah dijelaskan di atas.
Pengelolaan
ritel modern skala besar dan kecil membutuhkan kesiapan pengelola dalam
arti Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan, ketrampilan
(baik soft maupun hard skill) dalam hal manajerial ritel modern dan
sekaligus kepekaan dalam melihat peluang agar dapat memiliki kompetensi
untuk bertahan dalam bisnis ritel (continous competitive advantage).
Untuk itu, dipandang penting untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan di bidang manajemen ritel yang akan menambah kesiapan pengelola ritel tradisional maupun ritel modern pada umumnya dalam mengimplementasikan semua pengetahuan dan konsep manajemen ritel modern secara terintegrasi khususnya bagi kesiapan dalam mengelola bisnis ritel modern slaka kecil dan menengah secara mandiri maupun apabila terjun sebagai bagian dari manajemen suatu perusahaan ritel skala menengah dan besar.
Untuk itu, dipandang penting untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan di bidang manajemen ritel yang akan menambah kesiapan pengelola ritel tradisional maupun ritel modern pada umumnya dalam mengimplementasikan semua pengetahuan dan konsep manajemen ritel modern secara terintegrasi khususnya bagi kesiapan dalam mengelola bisnis ritel modern slaka kecil dan menengah secara mandiri maupun apabila terjun sebagai bagian dari manajemen suatu perusahaan ritel skala menengah dan besar.
Tujuan
Tujuan
yang ingin dicapai Lembaga Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi
Unika Widya Mandala urabaya Kajian Manajemen Ritel adalah: Mengembangkan
Sumber Daya Manusia bidang Manajemen Ritel yang berpengetahuan,
berkemampuan dan berkeahlian melalui:
1. Pemberian pengetahuan tentang dasar-dasar penting secara praktek untuk memulai bisnis ritel modern skala kecil dan menengah
2. Pemberian kita-kiat untuk meminimumkan resiko gagal dalam memasuki bisnis ritel modern
3. Menambah peluang sukses memulai dan bertahan dalam bisnis ritel modern
4. Memberikan referensi penting untuk sukses dalam bisnis ritel modern
5. Menyusun strategi untuk mencapai kesuksesan dalam bisnis ritel modern
6. Memberikan pedoman dalam pembuatan rencana kerja dalam bisnis ritel modern
Sasaran
Para pengusaha kecil dan menengah yang berkeinginan terjun dalam bisnis ritel sebagai:
Para pengusaha kecil dan menengah yang berkeinginan terjun dalam bisnis ritel sebagai:
1. Pemula dalam bisnis ritel modern skala kecil dan menengah secara mandiri
2. Tenaga yang akan bergabung dala operasional perusahaan ritel modern skala kecil dan menengah
3. Pelaku bisnis ritel tardisional kecil dan menengah yang berkeinginan untuk mengembangkan diri
4.
Tenaga yang akan bergabung dalam manajerial perusahaan ritel modern
skala kecil dan menengah pada tingkatan supervisor/penyelia
2.
Para pengusaha ritel tradisional kecik dan menengah yang menjadi binaan
suatu lembaga/institusi/organisasi lembaga swadaya masyarakat
Bidang Kompetensi
Pelatihan, penelitian dan konsultasi dalam bidang Manajemen Ritel, meliputi:
1. Perencanaan Bisnis Ritel (Retail Business Plan)
2. Audit Ritel Manajemen
3. Perencanaan dan Penyusunan Strategi Pemasaran Ritel
4. Pengelolaan Barang Dagangan (Merchandise Management)
5.
Pengelolaan Operasional Toko (Store Operation) Kiat Sukses Mengeloal
Ritel Modern Skala Menengah dan Kecil (memulai dan mampu bertahan dalam
era kompetisi)
6. Pergeseran Paradigma Pengelolaan Ritel Tradisional menuju Paradigma Ritel Modern
7. Analisis Perilaku Belanja Konsumen
7. Analisis Perilaku Belanja Konsumen
8. Retail Mix (Bauran Ritel)
9. Pengelolaan Loss Prevention
10. Studi Kelayakan Bisnis Ritel
Tenaga Pendukung
PPAB – FE UKWMS Kajian Manajemen Ritel didukung oleh tenaga-tenaga profesional yang berkemampuan dan berpengetahuan:
1. Dr. Ch. Whiya Utami (Marketing in Retail Business & Service Management)
2. Margaretha Ardhanari, SE., M.Si. (Loss Prevention & Retail Merchandise Management)
3. Veronika Rachmawati, SE., M.Si. (Consumer Behavior & Marketing Stategic in Retail Business)
4. Diyah Tulipa, SE., M.Si. (Store Operation Management & Financial Management in Retail Business)
5. Elisabeth Supriharyanti, SE., M.Si. (Inventory & Operation Management in Retail Business)
6. Aries Heru, SE., M.Si. (System Information and Financial Management in Retail Business)
2. Margaretha Ardhanari, SE., M.Si. (Loss Prevention & Retail Merchandise Management)
3. Veronika Rachmawati, SE., M.Si. (Consumer Behavior & Marketing Stategic in Retail Business)
4. Diyah Tulipa, SE., M.Si. (Store Operation Management & Financial Management in Retail Business)
5. Elisabeth Supriharyanti, SE., M.Si. (Inventory & Operation Management in Retail Business)
6. Aries Heru, SE., M.Si. (System Information and Financial Management in Retail Business)
7. Expert Team from PT Matahari Putra Prima
3. Klasifikasi Ritel
1. Klasifikasi deskriptif
Pasar ritel dibagi menjadi 2 tipe yaitu berdasarkan :
a. tipe kepemilikan (type of ownership)
b. tipe keragaman barang yang dijual(type of merchandise carried)
2. Klasifikasi strategic
Pasar retel dibedakan berdasarkan strategi yang digunakan,yaitu :
a. margin/turnover strategy
b.retail price and service strategy
c. strategic group classification
d. gross margin – merchandise type classification
3. Klasifikasi tingkat pelayanan
Dibagi menajadi :
a. penjualan eceran swalayan
b. penjualan eceran dengan memilih dendiri
Contoh : toko baju dipasar
c. penjualan eceran dengan penjualan terbatas
Contoh : toko elektronik
d. penjualan eceran dengan pelayanan penuh
Contoh : toko perhiasan,butik
Faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap bisnis ritel adalah 4P yaitu
Place,Price,Produck dan Promotion Oleh karena itu sebelum memulia bisnis
ini hendaknya kita harus sudah memahaminya dengan benar untuk
memperkecil resiko kerugian.
Bab 2-3
PERENCANAAN DAN MANJEMEN STRATEGI RITEL
1.pemahaman tentang saluran pemasaran
Membicarakan
strategi pemasaran, memang tidak akan pernah ada habisnya. Berbagai
cara dan usaha bisa dijadikan sebagai strategi untuk memasarkan sebuah
produk. Salah satu strategi yang sudah dijalankan masyarakat dari dulu
hingga sekarang adalah pemasaran dengan sistem retail atau eceran. Yang
dimaksud dengan strategi pemasaran retail atau eceran sendiri adalah
segala kegiatan jual-beli yang bertujuan menyalurkan barang kepada
konsumen akhir, guna memenuhi kebutuhan pribadi para konsumen.
Sebagian
besar pelaku usaha memilih untuk menggunakan strategi pemasaran ini,
sebab peluang pasar yang paling potensial datang dari konsumen akhir,
yang rata-rata membeli suatu produk untuk keperluan mereka sehari-hari.
Tak heran bila saat ini perkembangan bisnis retail juga sangat pesat,
lihat saja bisnis toko kelontong, minimarket, hingga bisnis retail yang
sudah besar seperti Matahari, Alfamart, Indomart, dan Hero banyak dicari
para konsumen.
Tingginya
permintaan pasar akan produk retail, membuat sebagian besar pelaku
usaha memilih strategi pemasaran tersebut untuk melepas produk mereka ke
pasaran. Meskipun cara ini terbilang mudah, namun persaingan pasar
bisnis retail sudah sangat tinggi. Maka dari itu bagi Anda yang ingin
terjun dalam bisnis retail, sebaiknya perhatikan hal-hal berikut untuk
memenangkan pasar :
Pertama, tentukan target pasar.
Meskipun bisnis retail biasa menawarkan berbagai produk kebutuhan
masyarakat, namun sebisa mungkin tentukan target konsumen yang ingin
Anda jangkau. Misalnya saja lebih menekankan harga murah untuk
menjangkau konsumen menengah kebawah, atau menyediakan produk dengan
kualitas terbaik untuk menjangkau sasaran pasar menengah keatas.
Kedua, ciptakan loyalitas pelanggan. Memiliki
konsumen yang loyal, merupakan strategi tepat untuk meningkatkan
pemasaran. Bukan hanya itu saja, dengan adanya loyalitas konsumen juga
membantu bisnis retail untuk menghadapi persaingan pasar. Ciptakan
program-program promosi yang dapat meningkatkan loyalitas konsumen,
contohnya saja dengan memberikan kartu diskon bagi para member, atau
mengadakan event promosi setiap akhir pekan.
Ketiga,pilih lokasi usaha yang strategis. Pemilihan
lokasi usaha sangat mempengaruhi tingkat penjualan pada bisnis retail.
Sesuaikan lokasi usaha dengan bisnis retail yang ingin dijalankan, sebab
lokasi usaha juga ikut menentukan potensi pasar. Seperti lokasi yang
ada di tengah pemukiman warga, Anda bisa membuka toko kelontong.
Sedangkan untuk lokasi usaha yang ada di daerah perkotaan, Anda bisa
mencoba bisnis retail dengan minimarket atau supermarket.
Keempat, cantumkan brand pada setiap produk.
Penanaman image kepada para konsumen, menjadi cara jitu untuk
memasarkan bisnis retail. Yang perlu diingat adalah brand bukan hanya
sekedar nama, jadi cantumkan brand yang telah ditetapkan di setiap
produk. Seperti mencantumkan logo disetiap label harga produk, atau
mencantumkan logo pada interior ruangan. Sehingga brand tersebut menjadi
pembeda bisnis retail Anda dengan bisnis para pesaing.
Kelima, berikan pelayanan prima kepada konsumen.
Jangan abaikan istilah pembeli adalah raja. Istilah ini memberikan
masukan kepada para pelaku usaha untuk selalu memberikan pelayanan
terbaik bagi para konsumen. Biasakan layani konsumen dengan 3S 1A
(sambut, senyum, sapa dan antusias). Lakukan dari hal yang terkecil,
seperti menyambut konsumen dengan salam dan mengucapkan terimakasih
setelah mereka selesai berbelanja. Cara ini sudah dilakukan pada
sebagian kecil bisnis retail, seperti Indomart. Jadi konsumen merasa
dihargai ketika berbelanja di tempat Anda, dan tidak segan untuk datang
berbelanja kembali.
Karena strategi pemasaran bisnis retail
lebih mengacu pada konsumen akhir sebagai potensi pasar, sebaiknya
lakukan pemasaran bisnis dengan pendekatan langsung kepada konsumen.
Yakinlah bila loyalitas konsumen telah terbentuk, maka yang menjadi agen
pemasaran paling efektif bagi bisnis Anda adalah para konsumen
tersebut. Oleh karena itu, penuhi kebutuhan konsumen dan biarkan mereka
menjadi agen pemasaran Anda. Salam sukses
2.pemahaman tentang perilaku konsumen
Dalam
pengertian bisnis ritel ini, barang yang dijual disalurkan langsung
kepada konsumen. Konsumen yang dimaksud dalam pengertian ini adalah diri
pribadi, keluarga, maupun rumah tangga. Proses yang terjadi dalam
bisnis ritel ini mencakup berbagai kegiatan sehingga transaksi antara
pedagang dan pembeli terjadi. Dalam hal ini, terdapat unsur yang mesti
ada dalam kegiatan bisnis ritel, yaitu meliputi product (barang atau
jasa), price (harga), place (tempat atau lokasi penjualan), dan
promotion atau promosi. Hal ini tentu saja berbeda dengan bisnis grosir
dimana pengusaha membeli barang dalam jumlah besar, dan menyalurkannya
lagi kepada peritel. Bisnis grosir biasanya dijalankan oleh pengecer
karena kemampuan modalnya yang cukup besar. Selain itu, juga terdapat
mata rantai yang cukup panjang pada penyaluran barang dalam bisnis ritel
dan melibatkan banyak pihak didalamnya, seperti distributor dan agen.
Dalam mata rantai ini, pedagang perantara atau agen berperan dan
mengambil peran atau tugas distributor untuk menyalurkan barang dari
produsen. Selanjutnya agen menyalurkannya kepada pengecer atau peritel
yang menjalankan bisnis ritel agar menjualnya lagi kepada konsumen
akhir. Namun dalam prakteknya, mata rantai bisnis tak selalu berjalan
seperti itu. Pedagang grosir, ada yang kemudian merangkap dengan membuka
bisnis ritel dengan menjual barang atau produk langsung kepada
konsumen. Hal ini bisa terjadi karena adanya peluang ataupun keuntungan
bisnis yang terbuka. Meskipun bisnis ritel menyediakan berbagai peluang
yang cukup menggiurkan, namun bisnis ini tak bisa dijalankan hanya
dengan memahami pengertian bisnis ritel. Kemampuan lain yang harus
dikuasai adalah manajemen usaha yang kuat, masalah layanan, dan kepekaan
bisnis. Apalagi perilaku konsumen dalam bisns ritel tidak mudah
ditebak, bahkan sering berubah. Hanya karena perbedaan harga yang
sedikit atau kecewa dengan tukang parkir, konsumen bisa dengan mudah
berpindah ke toko lain.
3.pemahaman tentang perilaku pesaing
Bisnis
ritel merupakan salah satu usaha yang memiliki prospek cukup baik.
Teruatam jika mengamati jumlah populasi penduduk Indonesia pada tahun
2010 yang diperkirakan mencapai kurang lebih 220 juta jiwa. Alhasil,
rasio keberadaan ritel khusunya ritel modern apabila diabdingkan dengan
total penduduk Indonesia masih menunjukkan kesenjangan yang cukup besar
(satu ritel masih harus melayani 500.000 jiwa).
Keberadaan
ritel-ritel tradisional memang masih cukup diperlukan dalam konteks
melayani segmen ekonomi bawah. Namun kemajuan teknoligi dan tuntutan
kebutuhan konsumen yang terus meningkat menjadi pendorong adanya
perubahan orientasi bisnis bisnis ritel.Jika pada awalnya banyak
bisnis ritel yang cukup dikelola secara tradisional, tanpa dukungan
teknologi yang memadai, tanpa pendekatan manajemen modern dan tanpa
berfokus pada kenyamanan dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan.
Pergeseran
pola perilaku belanja pelangan yang terdeteksi dari sejumlah studi yang
dilakukan menunjukkan bahwa aktivitas belanja pelanggan tidak hany
dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan akan barang-barang keperluan hidup,
namun lebih mengarah pada terpenuhinya kebutuhan untuk berekreasi dan
berelasi. Kondisi inilah yang mendorong bisnis ritel tardisional mulai
harus peka menaggapi kebutuhan pelanggan yang belum terpemuhi (un met
need) jika mereka ingin tetap bertahan hidup dalam lingkungan persaingan
bisnis ritel yang semakin tajam.
Bekal
pemahaman terhadap konsep-konsep pengelolaan ritel modern sangat
penting untuk dipahami, mengingat kegagalan dalam pengelolaan akan
menumbulkan resiko kerugian yang cukup besar. Sedangkan jika seorang
pelaku bisnis ritel tetap bertahan dengan pengelolaan ritel secara
tradisional tidak memungkinkan untuk memiliki keunggulan kompetitif yang
berkelanjutan bila dihadapkan dengan semakin banyaknya ritel-ritel
modern yang dikelola dengan modal yang cukup besar maupun terjadinya
perubahan pola belanja konsumen yang mempunyai konsekuansi terhadap
berubahnya kebutuhan mereka terhadap keberadaan sebuah ritel seperti
yang telah dijelaskan di atas.
Pengelolaan
ritel modern skala besar dan kecil membutuhkan kesiapan pengelola dalam
arti Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan, ketrampilan
(baik soft maupun hard skill) dalam hal manajerial ritel modern dan
sekaligus kepekaan dalam melihat peluang agar dapat memiliki kompetensi
untuk bertahan dalam bisnis ritel (continous competitive advantage).
Untuk
itu, dipandang penting untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan
di bidang manajemen ritel yang akan menambah kesiapan pengelola ritel
tradisional maupun ritel modern pada umumnya dalam mengimplementasikan
semua pengetahuan dan konsep manajemen ritel modern secara terintegrasi
khususnya bagi kesiapan dalam mengelola bisnis ritel modern slaka kecil
dan menengah secara mandiri maupun apabila terjun sebagai bagian dari
manajemen suatu perusahaan ritel skala menengah dan besar.
Sasaran
- Para pengusaha kecil dan menengah yang berkeinginan terjun dalam bisnis ritel sebagai:
- Pemula dalam bisnis ritel modern skala kecil dan menengah secara mandiri
- Tenaga yang akan bergabung dala operasional perusahaan ritel modern skala kecil dan menengah
- Pelaku bisnis ritel tardisional kecil dan menengah yang berkeinginan untuk mengembangkan diri
- Tenaga yang akan bergabung dalam manajerial perusahaan ritel modern skala kecil dan menengah pada tingkatan supervisor/penyelia
- Para pengusaha ritel tradisional kecik dan menengah yang menjadi binaan suatu lembaga/institusi/organisasi lembaga swadaya masyarakat.
Bidang Kompetensi
Pelatihan, penelitian dan konsultasi dalam bidang Manajemen Ritel, meliputi:
- Perencanaan Bisnis Ritel (Retail Business Plan)
- Audit Ritel Manajemen
- Perencanaan dan Penyusunan Strategi Pemasaran Ritel
- Pengelolaan Barang Dagangan (Merchandise Management)
- Pengelolaan Operasional Toko (Store Operation) Kiat Sukses Mengeloal Ritel Modern Skala Menengah dan Kecil (memulai dan mampu bertahan dalam era kompetisi)
- Pergeseran Paradigma Pengelolaan Ritel Tradisional menuju Paradigma Ritel Modern
- Analisis Perilaku Belanja Konsumen
- Retail Mix (Bauran Ritel)
- Pengelolaan Loss Prevention
- Studi Kelayakan Bisnis Ritel
BAB 4 & 5
METODE OPERASI RITEL
1. RITEL DALAM BENTUK TOKO
Fungsi Retail
Ritel
merupakan tahap akhir proses distribusi dengan dilakukannya pnjualan
langsung pada konsumen akhir. Dimana bisnis retail berfungsi sebagai
perantara antara distributor dengan konsumen akhir, Retailer berperan
sebagai penghimpun barang, took retail sebagai sebaga temat rujukan.
Ritail berperan sebagai penentu eksistensi barang dari manufacture di
pasar konsumsi.
KARAKTERISTIK DAN TIPOLOGI
1. Karakteristik
• Small Enough Quantity (Partai kecil,dalam jumlah secukupnya untk dikonsumsi sendiri dalam periode tertentu)
•
Impulse buying (kondisi yang tercipta dari ketersediaan barang dalam
jumlah dan jenis yang sangat variatif sehingga menimbulkan banyak
pilihan untuk konsumen)
• Store Condition ( KOndisi lingkungan dan interior dalam toko)
2. Tipe Bisnis Retail Klasifikasi retail berdasarkan :
Kepemilikan ( Owner ):
· Single-Store Retailer (tipe yang paling banyak jumlahnya dengan ukuran toko umumnya dibawah 100 m²)
· Rantai Toko Retail (toko retail dengan banyak cabang dan dimiliki oleh institusi perseroan)
· Toko Waralaba (toko yang dibangun berdasarkan kontrak kerja sama waralaba antara terwaralaba dengan pewaralaba)
Merchandise Category:
· Specialty Store/ Toko Khas (Menjual satu jenis kategori barang yang relative sedikit/ sempit)
· Grocery Store/ Toko Serba Ada (menjual barang groceries (sehari-hari))
· Departement Store (menjual sebagian besar bukan kebutuhan pokok, fashionable, bermerek, dengan 80% pola konyinyasi)
· Hyperstore(menjual barang dalam rentang kategori barang yang sangat luas)
Luas Sales Area :
Luas Sales Area :
· Small
Store/kiosk (kios kecil yang umumnya merupakan toko retail tradisional,
dioperasikan sebagai usaha kecil dengan sales kurang dari 100 m²)
· Minimarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara 100-1000 m²)
· Supermarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara 1000-5000 m²)
· Hypermarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara lebih dari 5000 m²)
Non-Store Retailer :
· Multi-Level-Marketing
(MLM) : Model penjualan barang secara langsung dengan system komisi
penjualan berperingkat berdasarkan status keanggotaan dalam distribution
lines
· Mail
& Phone Order Retailer ( Toko pesan antar ) : perusahaan yang
melakukan penjualan berdasarkan pesanan melalui surat atau telepon
· Internet/ Online Store (e-Commerce) : Toko Retail di dunia maya yang mengadopsikan internet ke dalam bentuk online retailing
2. RITEL DALAM BENTUK BUKAN TOKO
Untuk
menemukan pola-pola bisnis ritel secara e-commerce ( Amir Hartman dalam
bukunya “Net-Ready” (Hartman, 2000) secara lebih terperinci lagi
mendefinisikan E-Commerce sebagai “suatu jenis dari mekanisme bisnis
secara elektronis yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis
individu dengan menggunakan internet sebagai medium pertukaran barang
atau jasa baik antara dua buah institusi (B-to-B) maupun antar institusi
dan konsumen langsung (B-to-C)”. ), tentu saja harus Mempelajari
transformasi dari pola-pola penjualan retail secara fisik.
Permasalahan inti dalam perdagangan retail mempunyai 4 elemen
1. Mendapatkan product yang tepat,
2. harga yang tepat,
3. waktu yang tepat
4. Tempat yang tepat
Ada 4 pengacau dalam retail bisnis menurut Joseph L.Bower dan Clayton M Pengacau pertama datang dalam bentuk Departmen Stores.
Kelebihan
Department stores dibanding retail biasa adalah kecepatan perputaran
barang dan mampu menampilkan jumlah product yang sangat banyak dalam 1
store mereka. Department Store rata memperoleh keuntungan 40 % setiap
kali perputaran barangnya ( rata-rata 3 kali setahun),jadi mereka bisa
memperoleh keuntngan 120 %/thn. Pengacau kedua adalah Toko pemberi
diskon Hampir sama dengan Toko pemberi Diskon mereka bisa memberikan
diskon s/d 23%/thn dan bisa sampai 5 kali perputaran / tahunnya. Bisnis
retail melalui internet belum bisa diukur secara signifikan, tetapi
Amazon.com mampu mendapat marjin 5%/tahun dengan perputaran barang
sebanyak 25 kali / tahun, hampir sebanding dengan marjin dari bisnis
retail secara fisik dengan Department stores dan Toko pemberi diskon.
Toko pemberi diskon pada akhirnya akan melawan sesama toko pemberi
diskon yang lain, karena toko retail biasa sudah bukan menjadi lawan
mereka. Pengacau ketiga datang dalam bentuk Bisnis ritel dalam bentuk
Katalog Sasarannya adalah konsumen yang berada di kedalaman pemukiman,
ini juga yang disebut oleh “Richard sears” sebagai rumah perbekalan
paling murah didunia , dan mengkompensasikan kekurangan pelayanan
pribadi dengan jaminan uang kembali. Katalog adalah dasar dari toserba
online yang ada saat ini. Pengacau Keempat dan terbesar yang sedang
berlangsung saat ini adalah Online retail seperti yang dilakukan pelaku
bisnis online karena sama mendasarnya dengan tiga kekacauan sebelumnya.
Dari 3 pengacau sebelumnya Peretail Internet mampu mengemban 4 tugas
besar semua pelaku retail sebelumnya, yaitu : Product, tempat, harga dan
waktu. Poduct ? semua product bagus dan baik dapat ditampilkan disitu
Tempat ? Web adalah toko yang sangat baik dan tidak ada satupun toko
konvensional dapat menandinginya. Harga ? Online retail adalah surga
bagi Konsumen karena penawaran yang sangat fleksibel tiada banding,
dengan hanya marjin 5% saja Amazon.com dapat memutar barangnya sebanyak
25 Kali /tahun. Waktu ? Dengan Toko retail online berupa web, toko bisa
buka 24 jam penuh 7 hari setiap waktu tanpa perlu ada yang menjaga,
sehingga transaksi dapat dilakukan anytime , anywhere. Seiring waktu
bisnis retail online mulai merubah strateginya dari generalis
(
konsep department store ) ke Spesialis, yaitu dengan hanya menawarkan
product2 tertentu, misalnya : sebuah web hanya menjual Buku ( online
book stores ) dll. Akhir dari Resume ini adalah bahwa bisnis retail
konvensional dengan retail internet tetap harus berhubungan, karena
dalam kenyataannya bahwa seseorang yang membutuhkan sesuatu barang
dengan cepat pasti akan menuju mobilnya tanpa menuju komputernya.
3. Ritel waralaba
Selamat
Datang Waralaba Ritel Point dari BannerStore. ini hanya salah satu alat
bantu kami untuk memberikan penjelasan pada Anda peluang bisnis
waralaba / franchise dari TIENSHI. Omset RITEL Indonesia data 2008
mencapai 70Trilyun rupiah. Kenapa
tidak, kita bisa ikut andil menikmati omset tersebut di tahun 2009 dan
seterusnya. Diprediksi tahun 2009 omset ritel Indonesia akan naik 5 -
10%. Tianshi Indonesia 8 tahun telah memiliki 8.000.000
distributor (baca: tenaga marketing). Kenapa tidak, kita bisa tambah
penghasilan dengan memanfaatkan potensi tersebut melalui waralaba
TIENSHI. Ya, terbuka untuk siapapun yang BUKAN distributor TIENS. Banner Point adalah
SISTEM RITEL yang menyediakan jasa distribusi & administrasi dalam
bentuk TANPA TOKO (non-store format) dengan basis konsumen PELANGGAN.
Konsep utama Banner Point adalah pendistribusian elemen-elemen bisnis
ritel (finansial, logistik, pemasaran, penjualan, dan pelayanan) lewat
jaringan yang berkembang secara mandiri sehingga menghasilkan operasi
ritel yang efisien dan efektif. Karena sifat alamiah jaringan, sistem
terintegrasi ini SANGAT MUDAH DIKEMBANGKAN (highly scalable) – baik
secara perluasan basis pelanggan maupun intensifikasi jumlah penjualan –
dan dapat dikelola dengan mudah menggunakan sistem TEKNOLOGI INFORMASI
terkini dan peran serta sistem pendukung (SUPPORT SYSTEM) yang mapan dan
lengkap. Target konsumen Banner Point adalah konsumen pelanggan bukan
konsumen pengunjung dimana calon pelanggan tetapnya sudah ada 8 juta (distributor tianshi)
tersebar diseluruh indonesia ditambah lagi dari konsumen umum yang
ingin memanfaatkan layanan dari Banner Point itu sendiri. Segera
manfaatkan peluangnya dan bergabunglah bersama kami untuk meraih
kesuksesan di bisnis ritel.
Waralaba
Peraturan Pemerintah Tentang Waralaba
Tips memilih Waralaba yang Baik dan Menguntungkan
Mungkin
selama ini anda berfikir bahwa membeli sebuah franchise pasti selalu
menguntungkan. Karena dalam sistem franchise atau waralaba, resiko sudah
diminimalisir sedemikian hingga oleh pihak franchise (disebut franchisor).
Pemikiran demikian memang ada benarnya, walau tidak selalu benar dalam
praktek dan kenyataannya. Mengapa resiko kegagalan usaha membeli
waralaba lebih kecil daripada membuka usaha sendiri? hal ini dikarenakan
jika seorang memulai sebuah bisnis sendiri dengan metode “Trial and Eror“,
kemungkinan gagalnya sangat besar, apalagi tidak ada rekan atau saudara
yang membimbingnya dalam usaha yang baru dirintisnya tersebut.
Sedangkan kalau membeli waralaba, resiko kegagalan dapat diperkecil,
karena perusahaan pewaralaba (franchisor) sudah menyediakan segala
sesuatunya untuk mendukung investor (terwaralaba/ franchisee), termasuk
survey, metode marketing dan promosi, perizinan, bahan baku, manajemen,
standar kerja/ SOP, desain interior dan lain sebagainya.
Menurut John Naisbit dalam bukunya yang berjudul Megatrends,
mengatakan bahwa waralaba adalah konsep marketing yang paling sukses
dalam sejarah umat manusia. Menurutnya, di USA, setiap 8 menit, lahir
satu oulet waralaba. Konsep waralaba ini kemudian merambah sampai ke
Indonesia, dimana 10 tahun terakhir ini banyak bermunculan pebisnis yang
menawarkan konsep waralaba kepada masyarakat (calon investor). Konsep
baru ini menjadi topik hangat dikalangan dunia usaha dan media bisnis.
Akibatnya, semakin banyak orang yang tertarik untuk menamkan uangnya
dengan membeli waralaba atau sekedar lisensi bisnis atau paling tidak
mengetahui lebih detail bagaimana sistem waralaba itu sebenarnya, hal
ini dapat dilihat dari ‘laris manisnya‘ buku-buku yang mengupas masalah waralaba atau franchise dan tingginya minat pengunjung di acara pameran franchise.
Namun
yang perlu diketahui, bahwa ternyata tingkat kesuksesan waralaba di
indonesia hanya mencapai 60% saja, sedangkan di negei asalnya, Amerika
mencapai 90%. Selain itu, menurut Amir Karamoy, Ketua Waralaba dan
Lisensi Indonesia yang juga pemilik Konsultan AK & Partners,
menyatakan bahwa terjadi perbedaan tingkat kegagalan yang sangat
mencolok antara waralaba lokal dibanding waralaba asing. Tingkat
kegagalan waralaba lokal berkisar antara 50-60%, sedangkan tingkat
kegagalan waralaba asing di Indonesia hanya berkisar 2% – 3 % saja.
Mengapa waralaba lokal banyak yang berguguran? Kegagalan dalam sebuah bisnis waralaba bisa dari faktor franchisor-nya atau dari franchisee-nya
(investor) atau faktor akumulasi dari kedua belah pihak. Untuk sisi
franchisor, kadang karena bisnis yang dia tawarkan belum terbukti
menguntungkan, tapi sudah berani menawarkan konsep waralaba kepada calon
investor. Coba lihat di media cetak, banyak sekali iklan-iklan yang
menawarkan konsep kerja sama dalam bentuk “waralaba”, padahal belum
tentu bisnisnya sudah dapat dikatagorikan sebagai “waralaba/ franchise”,
bisa jadi hanya sekedar dalam bentuk “Pola Kemitraan/ Business
Opportunity (BO)” atau hanya sekedar penggunaan nama merek alias
lisensi.
Dari
berita-berita yang beredar, ternyata memang banyak yang sukses dengan
membeli franchise, artinya bisnis waralaba yang dibeli berjalan sesuai
dengan harapan, dimana target penjualan sampai masa Break Event Point
(BEP) dan sampai ROI (Return On Investment) alias “balik Modal” dapat
terlampaui, dan akhirnya bisnis itu ibarat pohon uang, tinggal memetik
keuntungan dari investasi awal.
Namun,
ternyata tidak sedikit juga para investor yang membeli waralaba
mengalami kerugian ditengah usahanya. Memang berita-berita kerugian para
terwaralaba ini jarang terpublikasi di media. Jika anda jeli, di
koran-koran atau majalah, sudah sering seorang franchisee memasang iklan
untuk menjual semua peralatan dan sistem waralabanya, dengan berbagai
alasan. Kalau dipikir-pikir secara logika, sebuah bisnis itu ibarat
pohon uang bagi si-empunya-nya (jika menguntungkan tentunya), jika
sebuah bisnis di jual, pasti ada “kenapa-kenapa” sehingga dijual.
Kemungkinan besar adalah usaha dengan sistem franchise yang dijual
tersebut ternyata tidak menghasilkan keuntungan atau usaha franchise
yang dibeli tersebut “tidak laris manis” dan tidak mencapai target penjualan, sehingga si franchisee “nombok” melulu dalam operasional bisnisnya.
Contoh
diatas, mungkin hanya salah satu, kita juga mungkin sering melihat
sebuah gerai waralaba yang tutup, apakah yang berbisnis di bidang resto,
salon, kedai burger, toko buku, laundry, ritel, hingga lembaga
pendidikan, dari yang berskala besar hingga kecil, dari yang mampu
bertahan dalam beberapa tahun hingga yang beroperasi hanya dalam
hitungan bulan. Namun seperti bunyi pepatah, bisnis franchise ini patah
tumbuh hilang berganti, selalu muncul franchisor dan franchisee baru.
Beberapa faktor penyebab kegagalan waralaba yang paling utama adalah kegagalan meraih target penjualan yang memadai, hal ini biasanya karena tempat usaha yang kurang strategis.
Faktor-faktor lainnya antara lain adalah kurangnya support dari penjual
franchise kepada franchisee misalnya dalam dukungan promosi, manajemen
dan lain-lain sehingga terkesan franchisee berjalan sendirian, dan ada
juga yang mengatakan karena naiknya harga bahan baku dan inflasi yang
berimbas pada lemahnya daya beli masyarakat secara umum. Selain itu,
faktor yang tak kalah pentingnya adalah “mindset” franshisee/ pembeli
waralaba yang berfikir bahwa membeli waralaba itu artinya tinggal terima
untung saja dan “terlalu mengharapkan” franchisor yang bekerja, atau
telalu berharap pada sistem yang bekerja. Padahal seharusnya franchisee
itu juga ikut kerja keras memajukan garainya, dan mengawasi sistem
apakah sudah berjalan dengan baik atau tidak. Apalagi jika bisnis yang
dimasuki adalah bisis makanan yang itemnya banyak dan sangat perlu
diatur manajemen logistiknya, mengingat makanan hanya tahan beberapa
hari sebelum rusak. Jadi jangan sampai terbuang percuma.
Saat
ini, yang paling ramai bisnis yang di-franchise-kan adalah dibidang
bisnis makanan, maklumlah, karena makanan adalah merupakan kebutuhan
paling pokok manusia, dan semua manusia perlu makan. Oleh karena itulah
bermunculan franchise yang bergerak dibidang makanan ini, seperti yang
berasal dari luar negeri antara lain : McDonnald, KFC, Dunkin Donuts,
dan lain-lain. Sedangkan yang dari lokal antara lain : RedCrispy, Andrew
Crepes, Bakmi Raos dan lain-lainnya. Selain franchise yang produknya
berupa makanan, juga ada franchise yang produknya berupa non makanan dan
jasa, misalnya dibidang pendidikan, pengantaran barang, salon, busana
dan lain-lain.
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum membeli waralaba:
- Apakah Waralaba memang pas untuk anda?
setiap tahunnya semakin banyak orang yang bermimpi keluar dari
rutinitas 8 pagi – 5 sore dan memiliki sebuah sistem bisnis sendiri
(baik self employed atau business owner). Meski begitu namanya membangun
bisnis bisa menjadi proses menakutkan. Membangun bisnis dapat dikatakan
suatu hal yang memerlukan konsentrasi, fokus dan persistensi yang
tinggi.
- Waralaba sering dilihat sebagai bisnis yang lebih kecil risikonya.
Waralaba memberikan peluang Anda membuka bisnis sendiri dengan dukungan
dan back up dari perawalaba. Namun waralaba tidak selalu cocok bagi
semua orang.
- Apakah waralaba merupakan pilihan menarik bagi anda?
Waralaba adalah sebuah pilihan yang menarik bagi pebisnis pemula,
karena waralaba memungkinkan anda menanamkan uang dalam sebuah sistem
yang sudah mapan, telah dicoba dan teruji, dan terbukti keberhasilannya.
Namun bagi pebisnis yang sudah malang melintang di dunia wirausaha,
mungkin tawaran waralaba sudah tidak begitu menarik lagi.
- Waralaba bukan garansi sukses.
Seperti disinggung di bagian atas, apalagi di Indonesia, tingkat
kegagalan waralaba masih cukup tinggi, namun demikian sebagai investor
waralaba anda akan mendapatkan bantuan dari pewaralaba. Meski demikian
Anda tetap perlu memotivasi diri, memiliki gerak dan komitmen kerja
keras untuk membangun bisnis yang sukses. Waralaba bukanlah garansi
kesuksesan. Meskipun satu tingkatan keberhasilan sudah tercapai,
diperlukan kerja keras agar bisa mempertahankan profitabilitas.
- Jika anda memutuskan langsung terjun ke bisnis, persiapkan mental dengan matang,
karena ada perbedaan suasana antara “ketidakpastian” di dunia bisnis
dan ‘zona nyaman’ di dunia karyawan dengan gaji bulanan yang pasti dan
rutin.
- Macam-macam tingkat investasi di dunia waralaba bermacam-macam.
Sesuaikan pilihan dengan kemampuan keuangan anda, jangan melebihi
kemampuan. Biasanya franchisor akan memberikan informasi seputar kinerja
franchisee lainnya sebagai gambaran. Namun, tentu saja ini bukan
garansi bagi kesuksesan. Anda perlu meneliti sendiri bisnis yang
potensial di sekitar Anda dan bila perlu mencari bantuan profesional
dalam membuat proyeksi keuangan. Kalau bisa bicaralah dengan franchisee
lain yang membeli waralaba tersebut, bagaimana sistemnya, supportnya,
proyeksi keuangannya, potensinya, dll.
Beberapa pertimbangan dalam memilih / membeli franchise atau waralaba antara lain:
1. Apakah merek-nya sudah terkenal dan memiliki image positif di pasar.
Karena, membeli franchise bukan hanya sekedar membeli sistem, tetapi
merek. Seandainya mereknya belum terkenal, sulit bagi kita untuk
memperoleh omzet maksimal karena pasar belum aware terhadap merek
franchise tersebut. Selain merek, juga produk dan sistem. Apakah
produknya “mumpuni“, kalau produknya berupa makanan, apakah enak,
apakah unik, apakah mudah dibuat atau tidak, apakah ada resep rahasia
sehingga sulit di tiru pesaing.
2. Siapa di belakang layar.
Nah ini juga perlu kita cari tahu, siapa pengembang dibalik nama
franchise yang di jual tersbut. Hal ini ibarat kita membeli rumah/
apartemen, tentu kita juga harus melihat kredibilitas pengembang
perumahan yang dijual. demikian juga dengan membeli waralaba, jika perlu
juga cari informasi tentang pemilik/ pengembang franchise tersebut.
Apakah franchisor yang kita minati merupakan perusahaan yang sukses dan
kuat, Franchisor wajib memberikan laporan keuangan yang telah diaudit
oleh akuntan publik kepada calon pembeli hak waralabanya. Laporan
tersebut dapat membrikan informasi keadaan keuangan perusahaan tersebut
untuk periode 3 tahun.
3. Tempat.
Tempat usaha yang kita pilih mutlak harus staretegis, ramai dan mudah
diakses dari mana saja, tempat parkir harus luas. JIka anda melihat
tempat usaha McDonnald, kebanyakan berada di tempat yang paling
strategis, di belahan dunia manapun, diperempatan jalan, pokoknya
tempatnya paling strategis. Maknya tak salah jika ada yang mengatakan
bahwa bisnis mereka bukan burger, tetapi properti.
4. Lakukan riset secara umum tentang waralaba yang di incar.
Pastikan anda melihat peluang di bidang bisnis yang akan dijalankan.
Cari tahu sebanyak mungkin informasi tentang waralaba yang diminati.
Misalnya mencari tahu bagaimana tingkat penjualan, sistem support,
kelemahan dan kelebihan waralaba tersebut dari franchisee lain yang
sudah terlebih dahulu membeli dan menjalankan waralaba tersebut.
pastikan waralaba tersebut memiliki bimbingan berkelanjutan dalam
pengelolaan merek, pengawasan mutu, manajemen kepegawaian, bimbingan
administrasi dan petunjuk teknis lainnya. Seringlah hadir dalam seminar
dan pameran franchise untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi dan
perbandingan terbaik.
5. Pilihlah waralaba yang sesuai dengan hasrat dan minat anda,
dan anda yakin waralaba tersebut akan menguntungkan dalam jangka
panjang. Hindari memilih waralaba karena faktor “trend” semata-mata.
6. Pilihlah waralaba yang sesuai dengan modal anda.
Beberapa bisnis waralaba ada yang mengalami kegagalan ditengah jalan
karena kekurangan modal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan peluang
keberhasilan, lebih baik untuk memiliki modal labih dari yang
disyaratkan franchisor. Disarankan untuk memiliki cadangan dana untuk
modal kerja 6 bulan sampai 1 tahun ke depan.
7. Mungkin anda perlu meminta nasihat dari profesional (konsultan waralaba) untuk mendampingi anda.
BAB 6
1. PASAR POTENSIAL RITEL
Sebuah
industri ritel melihat potensi pasarnya, atau bisa juga hal ini
dijadikan cara mencari lokasi untuk industri ritel dan faktor-faktor apa
saja yg menjadi tolak ukur dari pemain ritel. Ada delapan faktor utama
yg perlu kita lihat dan pelajari dengan baik. Kita langsung pada
potensi-potensi pasar yang harus kita perhatikan. POPULATION
CHARACTERISTICS. Populasi karakter ini adalah hal yang terpenting, yang
harus dilihat sebagai langkah potensi pasar pertama. Lihat secara detail
dari populasi yang ada di area tersebut, baik dalam jumlah perkembangan
penduduk, fasilitas yang mendukung industri ritel itu, baik dalam
industri sektor lain tapi yang mempunyai multiplier effect dengan usaha
ritel kita, seperti industri jasa ataupun industri sosial faktor di
daerah itu, seperti rumah sakit, sekolah dll. Populasi karakter harus
melihat dengan detail, baik dimulai dari segi manusianya, umurnya, latar
belakang edukasi mereka, pekerjaan, ras, suku dan juga perkembangan
pasar industri yang ada. Sering sekali survei hanya melihat dari data
perkembangan jumlah penduduk atau kepadatan penduduknya, tapi bukan dari
karakter populasi yang terjadi, ini jauh berbeda. Perkembangan jumlah
penduduk hanya perkembangan asumsi potensi jumlah customer saja tetapi
populasi karakter kita melihat dari semua sudut pandang yang menjadikan
sebuah karakter yg menjadi ukuran kekuatan potensi pasar yang ada. BUYER
BEHAVIOR CHARACTERISTICS. Hal lain yang sangat menjadikan sebuah
potensi pasar dalam menganalisa pasar yang ada adalah langkah kita
melihat dan mengenal kelakuan (behavior) karakter dari PEMBELI pasar
tersebut.
Ritel
adalah ujung tombak bagi marketer dalam memasarkan produknya. Semakin
kuatnya pengaruh ritel di konsumen membuat ketergantungan marketer
terhadap peritel juga semakin besar. Namun demikian masih banyak peritel
yang lebih bermental pedagang. Hanya menjadi perantara yang mengambil
marjin setinggi-tingginya. Padahal banyak sekali aspek marketing yang
bisa dijalankan supaya hubungan antara marketer dengan konsumen (lewat
ritel) bisa berjalan harmonis. Dari sisi konsumen, pada jaman sekarang
ritel bukan sekedar toko. Ada keterlibatan emosional yang harus dibangun
dengan pelanggan. Ada unsur kepuasan yag harus dijaga terus menerus.
Ada brand experience yang harus dirasakan oleh konsumen. Itulah sebabnya
peritel pada masa sekarang ini juga harus memiliki strategi marketing
yang jitu.
2. Memulai Bisnis Ritel
Memulai
bisnis bagi kebanyakan orang bukanlah hal yang mudah. Hal yang klasik,
banyak pertimbangan di sana sini sehingga tak jarang membuat orang urung
memulai bisnis. Semestinya memulai bisnis tidak menjadi salah satu
sumber ketakutan bagi setiap orang. Untuk menghilangkan ketakutan dalam
memulai bisnis, seseorang bisa membuat persiapan bisnis yang matang
sehingga dapat menjalaninya dengan optimistis. Salah satu seminar Gerald
Abraham salah seorang penasehat bisnis pada sebuah firma hukum, juga
pemilik dan direktur sebuah konsultan keuangan di tahun 2006, berisi
tentang menjadi sukses dengan memahami 9 aspek penting sebelum memulai
usaha.
1.
Memahami konsep produk atau jasa secara baik Sebelum memulai suatu
usaha maka hal yang terpenting adalah pemahaman kita akan konsep produk
atau jasa yang akan menjadi bisnis inti. Kita perlu memahami bukan hanya
secara teknis produksi tetapi juga pasar dan prospek mulai daripada
lingkungan yang terkecil kepada lingkungan yang terbesar. Dalam topik
ini dibahas secara menyeluruh aspek-aspek yang penting dalam melakukan
analisa atas kelayakan dan prospek produk termasuk produk-produk yang
sama sekali baru dengan melihat sisi human behavior, kebutuhan pasar dan
lainnya.
2.
Membuat visi dan misi bisnis Setiap orang yang mau memulai bisnis harus
mengetahui visi dan misi yang akan menjadi panduan seseorang untuk
tetap fokus kepada tujuan bisnis dan organisasi yang awal. Seringkali
suatu usaha pada saat mulai berkembang pada tahap berikutnya mengalami
kegagalan karena organisasi tersebut tidak memfokuskan diri kepada
peningkatan kemajuan bisnis awal tetapi terlalu banyak mencoba
mengembangkan bidang usaha lain yang baru.
3. Perlunya winning, positive dan learning attitude untuk menjadi sukses
Sikap mental merupakan kunci keberhasilan atas usaha anda selain daripada pemahaman usaha anda. there is no over night success sesuatu yang harus dicamkan daripada setiap calon “entrepreneur” karena dibutuhkan waktu, sikap tidak menyerah, proses belajar secara kesinambunga, dan melihat permasalahan secara positif yang tidak membuat anda menjadi patah semangat namun melihat setiap peluang dan belajar atas setiap kegagalan.Anda akan belajar untuk mengembangkan sikap-sikap diatas untuk menjadi “bisnis entrepreneur” yang sukses
Sikap mental merupakan kunci keberhasilan atas usaha anda selain daripada pemahaman usaha anda. there is no over night success sesuatu yang harus dicamkan daripada setiap calon “entrepreneur” karena dibutuhkan waktu, sikap tidak menyerah, proses belajar secara kesinambunga, dan melihat permasalahan secara positif yang tidak membuat anda menjadi patah semangat namun melihat setiap peluang dan belajar atas setiap kegagalan.Anda akan belajar untuk mengembangkan sikap-sikap diatas untuk menjadi “bisnis entrepreneur” yang sukses
.4.
Membuat perencanaan dan strategi bisnis yang efektif akan menghindari
usaha daripada risiko bisnis dan Secara statistik hampir seluruh
kegagalan bisnis kecil dan menengah disebabkan karena tidak adanya atau
kurang efektifnya perencanaan bisnis yang anda buat. Asumsi-asumsi
seperti kapasitas produksi, tingkat utilisasi produksi, proyeksi
kenaikan harga dan biaya dan aspek lainnya dalam perencanaan bisnis
haruslah menggambarkan secara akurat realitas pasar atau praktek yang
ada dalam suatu industri. Sistematika perhitungan dan proyeksi
pendapatan dan biaya harus dibuat secara tepat sehingga membantu setiap
calon pengusaha untuk menghitung secara akurat kebutuhan modal investasi
dan modal kerja termasuk struktur biaya untuk persiapan awal, tahap
percobaan, produksi secara komersial, inventori, distribusi, pemasaran,
administrasi, sumber daya manusia dan juga komponen pendapatan usaha
yang terdiri dari pendapatan inti dan tambahan. Pemahaman yang baik atas
hal ini juga akan membantu calon entrepreneur untuk dapat
mengindentifikasi potensi resiko bisnis, manajemen dan keuangan dan
membuat langkah-langkah pengendalian untuk dapat menghindari setiap
resiko tersebut.
5.
Pengetahuan dasar manajemen, organisasi dan sistem akan menghindari
usaha dar I pada risiko manajemen. Setiap usaha dari yang paling kecil
sekalipun membutuhkan manajemen yang baik untuk memastikan proses
pemasaran, produksi, distribusi dan penjualan berlangsung dengan baik.
Sistem manajemen yang buruk akan mengakibatkan adanya biaya yang tidak
perlu seperti bahan baku yang terbuang, pekerja yang tidak produktif
karena pengawasan yang tidak efektif dan deskripsi pekerjaan yang tidak
jelas, koordinasi dan komunikasi antar pegawai yang tidak efektif
sehingga banyak keputusan yang terlambat, perekrutan pegawai yang tidak
efektif sehingga banyak pegawai yang keluar masuk dan membuang banyak
waktu dan biaya, pelatihan yang tidak baik sehingga produktivitas
pegawai yang rendah dan masih banyak lagi permasalahan organisasi. Dalam
topik ini kami akan memberikan pengetahuan dasar dan aspek-aspek yang
sangat penting yang harus dipelajari oleh calon bisnis entrepreneur
untuk menghindari resiko manajemen yang dapat menyebabkan kegagalan
usaha.
6. Optimalisasi sumber daya manusia maka 50% usaha Anda sudah berhasil.
Sumber Daya Manusia atau SDM merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha yang sangat penting. Banyak pakar yang menyadari bahwasanya untuk memulai usaha seringkali apabila kita merekrut pegawai yang tepat dan berpotensi sangat baik dapat menutup kelemahan manajemen, organisasi dan sistim dalam jangka pendek. Dengan SDM yang tepat maka kita sudah setengah jalan untuk menjadi sukses. Topik ini akan membantu kita untuk memahami kriteria pegawai yang baik dan sesuai dengan kebutuhan usaha, manajemen SDM secara umum termasuk sistim penilaian kinerja pegawai sehingga setiap pegawai akan merasa puas dan juga bagaimana memotivasi pegawai baik secara psikologi umum maupun dengan sistim insentif untuk mengoptimalkan kinerja pegawai.
Sumber Daya Manusia atau SDM merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha yang sangat penting. Banyak pakar yang menyadari bahwasanya untuk memulai usaha seringkali apabila kita merekrut pegawai yang tepat dan berpotensi sangat baik dapat menutup kelemahan manajemen, organisasi dan sistim dalam jangka pendek. Dengan SDM yang tepat maka kita sudah setengah jalan untuk menjadi sukses. Topik ini akan membantu kita untuk memahami kriteria pegawai yang baik dan sesuai dengan kebutuhan usaha, manajemen SDM secara umum termasuk sistim penilaian kinerja pegawai sehingga setiap pegawai akan merasa puas dan juga bagaimana memotivasi pegawai baik secara psikologi umum maupun dengan sistim insentif untuk mengoptimalkan kinerja pegawai.
Eksistensi Bisnis Ritel
Keberadaan
pasar modern memberikan banyak pilihan bagi konsumen dalam menentukan
lokasi berbelanja. Apalagi belakangan ini jumlahnya juga semakin banyak.
Namun, bagi pebisnis pasar tradisional, tentu memiliki arti lain.
Ketatnya persaingan bisnis ritel mendorong para pengusaha untuk
melakukan terobosan dalam strategi berdagang, baik menyangkut kemasan
toko, pelayanan, hingga soal harga produk. Hal ini tentunya akan memberi
keuntungan lain bagi para calon pembeli. Singkat kata,dalam urusan
berbelanja,kondisi ini benar-benar memanjakan para konsumen.
Konsumen
juga memegang kendali dalam menentukan hidup matinya sebuah toko
modern, bahkan berpengaruh dalam pertumbuhan pasar modern. Bagi pebisnis
ritel, karakter masyarakat akan menjadi pertimbangan dalam
mengembangkan usahanya. Executive Director dari Retail Measurement
Services Nielsen,Teguh Yunanto menuturkan, peritel akan melihat populasi
penduduk sebagai salah satu pertimbangan dalam membuka toko.
Ritel
modern mencakup hal yaitu pendekatan manajemen kategori dan manajemen
rantai pasokan. Dalam konteks ini, manajemen kategori dapat dipahami
sebagai suatu pendekatan cara penanganan barang pada tingkat kategori
melalui klasifikasi yang terstruktur dan sistematis pada bauran produk
BAB 7 & 8
1.Sumber dan produk Lini
Lini
produk adalah serangkaian produk dan jasa yang berhubungan yang
ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Lini produk cenderung berkembang
sepanjang waktu, saat perusahaan menyadari kebutuhan konsumen yang lain.
Sumber dan produk line sebagai pedoman umum bisa dikatakan, bahwa
perusahaan besar sebaiknya mempunyai product line yang relatif lengkap.
Sedang perusahaan sedang dan kecil, sebaiknya mempunyai suatu limited
product line. Alasannya, seperti sudah diketahui, adalah sumber daya
yang terbatas untuk perusahaan kecil. Dengan suatu limited product line,
maka akan lebih terjadi konsentrasi/fokus sehingga peluang berhasil
juga akan lebih tinggi. Titik optimal itu terdiri dari berapa produk?
Jawaban yang pasti dan eksakta tentu tidak ada, karena semua perusahaan
punya karakteristik industri yang berbeda beda. Namun titik optimal itu
terdiri dari 3-5 produk, atau belasan, atau mungkin bahkan puluhan,
dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yaitu:
• Sumber daya keuangan perusahaan. Seberapa jauh kita bisa membiayai laju pertumbuhan
perusahaan kita sendiri.
perusahaan kita sendiri.
• Tentu keadaan persaingan. Makin ketat persaingan, product line-nya harus makin terbatas.
• Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan produk yang lebih differentiated (unik), atau
lebih baik.
• Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan produk yang lebih differentiated (unik), atau
lebih baik.
2.Pemberdayaan Perdagangan Ritel
kekurangan
pada bargaining power dalam menghadapi supplier-nya maka terdapat
tantangan dalam persaingan global yang menuntut keberadaan UKMK dalam
bidang Ritel yang sehat, berdaya saing, dan berkembang secara
berkelanjutan (sustainable). Dipandang perlu pula adanya upaya-upaya
serius untuk melindungi kehidupan berbisnis UKMK Bidang Ritel dari
tantangan persaingan peritel global. Adalah merupakan suatu urgensi bagi
peningkatan kapasitas UKMK menjadi tempat belanja alternatif (ritel
modern) yang mampu bersaing dengan peritel dari jaringan konglomerasi
dengan mengangkatnya dari kondisi marjinal akibat tekanan persaingan.
Dengan kata lain, adalah saatnya untuk memulai gerakan pemberdayaan UKMK
Bidang Ritel ini melalui sosialisasi praktek perdagangan ritel modern
yang berkeadilan, dengan kepemilikan usaha yang diperluas, memiliki
multi-peran sebagai Agen Pemberdayaan bagi Masyarakat Pebisnis Ritel dan
Pemasoknya yang berskala UKMK disamping tujuannya mendapatkan
keuntungan usaha, dan memiliki komitmen bagi pembelajaran masyarakat
sehingga mampu membangkitkan jiwa kewirausahaan. Dari sisi kelembagaan,
perbedaan karakteristik pengelolaan pasar modern danpasar tradisional
nampak dari lembaga pengelolanya. Pada pasar tradisional, kelembagaan
pengelola umumnya ditangani oleh Dinas Pasar yang merupakanbagian dari
sistem birokrasi. Sementara pasar modern, umumnya dikelola oleh
profesional dengan pendekatan bisnis. Selain itu, sistem pengelolaan
pasar tradisional umumnya terdesentralisasi dimana setiap pedagang
mengatursistem bisnisnya masing-masing. Sedangkan pada pasar modern,
sistempengelolaan lebih terpusat yang memungkinkan pengelola induk dapat
mengaturstandar pengelolaan bisnisnya. Dari aspek kebijakan, dapat
dijelaskan bahwapemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan
tentang penataan perpasaran.
3.Keunggulan Perdagangan Ritel
Ritel
di Indonesia memang memberikan beberapa manfaat, namun keberadaannya
juga menuai banyak persoalan. Pertama, keberadaan ritel modern terbukti
mematikan warung-warung tradisional terutama terkait dengan trend
pergeseran kebiasaan konsumen di atas. Data dari Asosiasi Pedagang Pasar
Seluruh Indonesia (APPSI) menunjukkan jumlah pedagang pasar tradisional
di wilayah DKI Jakarta mengalami penurunan dari 96.000 orang menjadi
76.000 pedagang. APPSI juga menyebutkan bahwa sekitar 400 toko di pasar
tradisional tutup setiap tahunnya.
Selain itu, ritel modern juga tidak berkontribusi pada perkembangan, bahkan justru mematikan pemasok-pemasok kecil lokal, terutama UKM. Awalnya, pemerintah berharap UKM dapat memperoleh peran sebagai pemasok dalam ritel modern. Jumlah UKM yang menjadi pemasok ritel modern memang mencapai 67% dari total keseluruhan jumlah pemasok, namun produk yang disuplai oleh UKM hanyalah 10% dari total barang yang dijual di suatu ritel modern. Hal ini terjadi karena syarat perdagangan yang ditawarkan oleh ritel modern terlalu berat untuk dipenuhi UKM. Salah satu persyaratan yang sangat memberatkan UKM adalah listing fee.
Selain itu, ritel modern juga tidak berkontribusi pada perkembangan, bahkan justru mematikan pemasok-pemasok kecil lokal, terutama UKM. Awalnya, pemerintah berharap UKM dapat memperoleh peran sebagai pemasok dalam ritel modern. Jumlah UKM yang menjadi pemasok ritel modern memang mencapai 67% dari total keseluruhan jumlah pemasok, namun produk yang disuplai oleh UKM hanyalah 10% dari total barang yang dijual di suatu ritel modern. Hal ini terjadi karena syarat perdagangan yang ditawarkan oleh ritel modern terlalu berat untuk dipenuhi UKM. Salah satu persyaratan yang sangat memberatkan UKM adalah listing fee.
4.Kebijakan harga dalam perdagangan ritel
Seiring
dengan adanya beberapa indikator dalam pertumbuhan perdagangan pada
tahun 2011 ini, maka, sebagai tindaklanjut dari tahun sebelumnya, tahun
ini Kemendag menetapkan berbagai ke bijakan yang berpihak guna
mendongkrak sektor perdagangan di dalam maupun di luar negeri menjadi
lebih baik lagi. Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu
mengatakan, tahun ini Kemendag akan terus meningkatkan kerja sama dengan
pihak swasta untuk memperkuat perdagangan produk dalam negeri. “Saya
yakin perdagangan produk dalam negeri positif pertumbuhannya,” tandas
Mendag. Selama 2010 Kementerian Perdagangan telah mengenakan bea masuk
antidumping terhadap tujuh produk impor yang dinilai diperdagangkan
secara tidak adil. “Untuk mengamankan pasar dalam negeri, telah
dikenakan tindakan antidumping terhadap tujuh produk impor,” kata
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu Selain itu, untuk mengamankan
pasar dalam negeri, kemendag juga terus melakukan peningkatan pengawasan
barang beredar dan jasa. Kemendag akan terus melakukan pengawasan
berkala terhadap perdagangan 15 komoditas dengan Standar Nasional
Indonesia (SNI) wajib dan lima produk jasa di 15 daerah. “Kita juga akan
terus me ngawasai secara ketat dalam pendistribusian gula, bahan
berbahaya dan minuman beralkohol,” tandas Mendag. Lebih lanjut, Kemendag
bekerjasama dengan BPOM akan memastikan bahwa label berbahasa Indonesia
untuk produk-produk pangan, kosmetik, dan produk-produk non pangan yang
telah ditetapkan di lapangan harus dapat terpenuhi. “Semua itu kita
lakukan sebagai upaya Kemendag dalam memberikan pelindungan terhadap
konsumen. Dengan melakukan perlidungan ini, secara otomatis kita juga
telah mengamankan pedagangan di dalam negeri. Sejumlah produk luar harus
memenuhi syarat seperti syarat-syarat yang yang dipenuhi oleh produk di
dalam negeri sebelum diperdagangkan,” jelas Mendag. Agaknya, dengan
sejumlah kebijakan yang telah dilakukan oleh Kemendag tersebut, maka
pada 2010, produk dalam negeri boleh dibilang masih mampu menguasai
pasar di berbagai pusat perbelanjaan atau mal yang tersebar di Tanah
Air. Penguasaan pangsa pasar produk dalam negeri tersebut di perkirakan
hingga mencapai 80%.
BAB 9
1.strategi promosi perdagangan ritel
Sebagaimana
kita ketahui bahwa produk ataupun jasa yang dihasilkan oleh perusahaan
tidak mungkin dapat mencari sendiri pembeli ataupun peminatnya. 0leh
karena itu, produsen dalam kegiatan pemasaran produk atau jasanya harus
membutuhkan konsumen mengenai produk atau jasa yang dihasilkannya. Salah
satu cara yang digunakan produsen dalam bidang pemasaran untuk tujuan
meningkatkan hasil produk yaitu melalui kegiatan promosi. Tidak dapat
dipungkiri lagi bahwa promosi adalah salah satu faktor yang diperlukan
bagi keberhasilan dan strategi pemasaran yang diterapkan suatu
perusahaan terutama pada saat ini ketika era informasi berkembang pesat,
maka promosi merupakan salah satu senjata ampuh bagi perusahaan dalam
mengembangkan dan mempertahankan usaha.
Suatu
produk tidak akan dibeli bahkan dikenal apabila konsumen tidak
mengetahui kegunaannya, keunggulannya, dimana produk dapat diperoJeh dan
berapa harganya. Untuk itulah konsumen yang menjadi sasaran produk atau
jasa perusahaan perlu diberikan informasi yang jelas. Maka peranan
promosi berguna untuk:
Ø Memperkenalkan produk atau jasa serta mutunya kepada masyarakat.
Ø Memberitahukan kegunaan dari barang atau jasa tersebut kepada masyarakat serta cara penggunaanya.
Ø Memperkenalkan barang atau jasa baru.
Oleh
karenanya adalah menjadi keharusan bagi perusahaan untuk melaksanakan
promosi dengan strategi yang tepat agar dapat memenuhi sasaran yang
efektif. Promosi yang dilakukan harus sesuai dengan keadaan perusahaan.
Dimana harus diperhitungkan jumlah dana yang tersedia dengan besarnya
manfaat yang diperoleh kegiatan promosi yang dijalankun perusahaan.
Sebagaimana diketahui bahwa keadaan dunia usaha bersifat dinamis, yang
selalu mengalami perubahan yang terjadi setiap saat dan adanya
keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu strategi
pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting untuk keberhasilan
perusahaan umumnya dan pada bidang pemasaran khususnya. Disamping itu
strategi pemasaran yang diterapkan harus ditinjau dan dikembangkan
sesuai dengan perkembangan pasar dan lingkungan pasar tersebut. Dengan
demikian strategi pemasaran harus dapat memberikan gambaran yang jelas
dan terarah tentang apa yang dilakukan perusahaan dalam menggunakan
setiap kesempatan atau paduan pada beberapa sasaran pasar.Melihat
pentingnya strategi pemasaran terhadap peningkatan volume penjualan
perusahaan, maka penulis tertarik untuk lebih memperjelas lagi topik
tersebut dalam penulisan penelitian ini.
Dalam
penulisan penulisan ini, penulis berusaha untuk memudahkan pembahasan
agar lebih terarah, maka penulis membatasi kepada masalah pemasaran,
dalam hal ini hanya masalah strategi pemasaran dalam meningkatkan volume
penjualan produk maupun jasa dalam suatu perusahaan. Adapun tujuan dari
penulisan ini adalah untuk mengetahui dengan lebih pasti strategi
pemasaran yang paling sesuai dengan keadaan perusahaan untuk dapat
tumbuh dan berkembang dalam persaingan.
Dalam
penulisan penelitian ini, penulis membahas dalam lima bab, yaitu: Bab
satu, berisi pendahuluan yang yang membicarakan alasan pemilihan judul,
luas dan tujuan penulisan serta sistematika pembahasan. Bab dua, memuat
tentang aspek penting dalam pemasaran, yaitu menjelaskan tentang rencana
strategi pemasaran, pasar sasaran, dan bauran pemasaran. Bab tiga,
memuat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pemasaran. Dalam
hal ini akan dibahas tentang rencana strategi perusahaan dan
faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pemasaran perusahaan. Bab
empat, pada bab ini akan dibahas mengenai strategi untuk setiap posisi
bisnis, seperti Market leader, Market challanger, Market follower, atau
Market Nicher. Bab lima, pada bab terakhir ini, penulis mencoba untuk
membuat kesimpulan akhir atas apa yang telah diuraikan dan memberikan
saran-saran yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam penentuan strategi
pemasaran
2.Kredit ritel
AKARTA: PT Bank Mandiri Tbk akan
meningkatkan porsi kredit ritel pada tahun ini guna meningkatkan margin
bunga bersih yang sempat turun pada tahun lalu. “Kami sebetulnya sedang
perlahan-lahan mengubah komposisi portofolio selama ini lebih condong
ke korporasi menjadi lebih banyak retail. Kita paham kredit ritel retail
suku bunganya lebih tinggi dibanding dengan korporasi,” ujar Zulkifli Zaini
Direktur Utama Bank Mandiri, Kamis malam 8 Maret 2012. Strategi
tersebut diharapkan dapat mendongkrak margin bunga bersih (net interest
margin/NIM) perseroan yang sempat turun pada tahun lalu menjadi 5,11%
dari tahun sebelumnya 5,28%. Penurunan NIM tersebut merupakan
konsekuensi atas penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK yang terjadi
pada tahun lalu. “Walaupun SBDK turun tapi komposisi kredit mengubah
evolusi corporate jadi retail. Maka pendapatan bunga bersih kami akan
naik,” jelasnya. Selain itu, penurunan NIM juga disebabkan penurunan
bunga obligasi rekapitalisasi akibat pengubahan acuan bunga dari
Sertifikat Bank Indonesia bertenor 3 bulan menjadi Surat Perbendaharaan
Negara 3 bulan. “Pada awal tahun yield obligasi masih 6,3% dan turun
menjadi 4,4%--4,5% pada akhir tahun. Ini sebabkan karena reference rate
dari recap bond kami diubah,” ujar Pahala N. Mansyuri, Direktur Keuangan
Bank Mandiri. Pahala mengakui obligasi rekap tersebut tidak terlalu
menguntungkan sehingga perseroan berencana untuk melepas. Namun hal
tersebut masih menjadi pembahasan bersama dengan Bank Indonesia dan
Kementerian Keuangan karena sebagian obligasi rekap tersebut tidak
berstatus dapat diperdagangkan. Kita masih membicarakan dan belum final.
Kami masih eksplorasi bagaimana recap bonds dijual entah buyback atau
ditukar dengan aset lainnya,” jelasnya. Selain mengandalkan pendapatan
bunga, lanjut Zulkifli, perseroan juga akan meningkatkan pendapatan
berbasis komisi, peningkatan rasio intermediasi (loan to deposit ratio)
dan menekan biaya dana guna mendongkrak laba bersih 2012. Kredit ritel
Bank Mandiri tercatat Rp81 triliun pada akhir 2011 dan memiliki porsi
sebesar 29,6% dari total portofolio pinjaman. Adapun total kredit
perseroan di luar anak usaha mencapai Rp273,9 triliun, meningkat naik
25,06% dari tahun sebelumnya sebesar Rp219 triliun. (Bsi)
Bab 10
Penarikan sumberdaya manusia ritel
pembahasan
A. M. Manulang dalam bukunya Manajemen Personalia, (1987 : 14) yang
dikutif oleh Moh. Moh. Abdul Mikhyi dan Hadir Hudyanto sebagai berikut :
“Sumber daya manusia atau personali adalah Hakikat Sumber Daya Manusia
Pada setiap organisasi atau perusahaan khususnya pada lembaga pendidikan
diperlukan adanya suatu sumber daya manusia sebagai tenaga kerja. Oleh
sebab itu bahwa yang dimaksud dengan sumber daya manusia adalah tenaga
kerja, hal sebagaimana menurut tenaga kerja, buruh atau pegawai yang
mengandung arti keseluruhan orang-orang yang berkerja pada suatu
organisasi tertentu.”[1] Dari pendapat tersebut jelas bahwa sumber daya
manusia adalah tenaga kerja yang menduduki suatu posisi atau orang-orang
yang mempunyai tanggungjawab untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan
pada suatu organisasi atau instansi tertentu. 5 ”Hal yang penting
untuk diperhatikan oleh organisasi adalah bagaimana memperoleh tenaga
kerja sesuai dengan kebutuhan dan posisi yang akan diduduki, bagaimana
mengembangkannya dan memelihara tenaga kerja, menggunakan serta
mengavaluasi hasil kerjanya.”[2] Untuk menjaga agar tenaga kerja tidak
terjadi ketinggalam atau tidak ada peningkatan, maka bahwa tenaga kerja
harus selalu ditingkatkan diarahkan pada peningkatan mutu dan kualitas
dalam bekerja. Menurut Moh. Abdul Mukhyi dan Hadir Hudiyanto
mengemukakan 3 faktor yang mempengaruhi kegiatan pemenuhan kebutuhan
sumber daya manusia, yaitu : “reputasi perusahaan di mata anggkatan
kerja, tingkat pertumbuhan angkatan kerja dan tersedianya tenaga kerja
dengan kualifikasi pendidikan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan
perusahaan.”[3] Berdasarkan hal tersebut, maka bahwa sumber daya manusia
merupakan tenaga kerja yang secara keseluruhan menempata pada suatu
tempat atau posisi yang dalam posisinya itu memiliki suatu tanggungjawab
untuk melaksanakan tugas atau pekerja yang menjadi tanggungjawabnya,
hal ini tentunya harus didukung oleh kemampuan atau keterampilan yang
dimiliki oleh seorang tenaga kerja, sehingga tugas pekerjaan dapat
dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
B.
Hubungan antara Penarikan dan Perencanaan Sumber Daya Manusia Untuk
menghasil penarikan sumber daya manusia yang sudah memiliki kemampuan
sesuai dengan bidang atau kebutuhan tenaga kerja pada suatu instansi
atau institusi, maka diperlukan adanya suatu perencanaan dalam
penerimaan atau penarikan sumber daya manusia yang akan diterima sesuai
dengan kualifikasi yang tentunya ditetapkan terlebih dahulu. Menurut
Muhammad Abdul Mukhyi dan Iman Hadi Saputro, mengemukakan bahwa :
“Perencanaan diperlukan dan terjadi dalam berbagai bentuk organisasi,
sebab perencanaan ini merupakan proses dasar manajemen di dalam
mengambil suatu keputusan dan tindakan. Perencanaan diperlukan dalam
setiap jenis kegiatan baik itu kegiatan organisasi, perusahaan maupun
kegiatan di masyarakat, dan perencanaan ada dalam setiap fungsi-fungsi
manajemen, karena fungsi-fungsi tersebut hanya dapat melaksanakan
keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dalam perencanaan.”[4]
Berdasarkan uraian tersebut, bahwa perencanaan merupakan suatu kegiatan
yang selalu ada dalam setiap organisasi atau instansi, karena
perencanaan merupakan suatu kegiatan awal dari setiap kegiatan, oleh
karena itu bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan bagian dari
perencanaan dalam suatu organisasi atau instansi, maka dengan demikian
bahwa dalam merencanakan atau memanajemen sumber daya manusia dalam
rangka untuk mencapai suatu tujuan yang menjadi target yang harus
dicapai. Untuk mencapai tujuan suatu organisasi atau instansi tentunya
diperlukan tenaga-tenaga yang profesional, maka dari itu bahwa
memanajemen atau merencanakan sumber daya manusia harus melihat pada
unsur-unsur yang berkaitan dalam penempatan tenaga kerja, unsur dimaksud
di antaranya unsur perencanaan, unsur tenaga kerja (sumber daya
manusia), unsur tujuan, dan unsur logistik. Dari beberapa unsur tersebut
tentunya saling keterkaitan, dan saling berhubungan serta saling
mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya, maka bahwa antara
perencanaan dengan sumber daya manusia jelask ada hubungan, yang
selanjutnya bahwa dalam perencanaan sumber daya manusia di dalam ada
proses penarikan, penempatan, promosi atau pemindahan dari suatu posisi
ke posisi lainnya dalam organisasi atau instansi. Berdasarkan uraian
tersebut, bahwa antara penarikan dan perencanaan sumber daya manusia
adanya suatu hubungan tidak dapat dipisahkan, di mana bahwa dalam
perencanaan itu sendiri adanya suatu proses penarikan atau recruitment
untuk mengisi suatu posisi tertentu yang ada dalam organisasi atau
instansi, sehingga kebutuhan tenaga kerja dapat terpenuhi.
C. Media Penarikan Sumber Daya Manusia Dalam setiap organisasi atau
instansi sesuai dengan perkembangannya akan memerlukan sumber daya
manusia yang profesional untuk ditempatkan pada posisi tertentu,
sebagaimana menurut Soekidjo Notoatmodjo yaitu : “Tiap organisasi
mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menarik karyawannya. Beberapa
organisasi yang besar mempunyai sistem yang sangat baik dan dengan
menggunakan media massa yang canggih dalam menarik calon karyawan.
Tetapi ada beberapa organisasi, cara penarikan calon karyawan ini sangat
sederhana, dan dengan media yang sederhana pula.”[5] Dari pendapat
tersebut dikemukakan bahwa cara dalam penarikan atau rekruitment sumber
daya manusia dalam setiap organisasi atau instansi itu melakukannya ada
yang dengan cara sederhana dan ada juga dengan media massa yang sudah
canggih, hal ini tentunya terkait dengan keadaan dari organisasi atau
instansi itu sendiri, yakni berhubungan dengan sistem yang dimiliki dan
anggaran yang ditetapkan dalam penarikan atau rekruitment sumber daya
manusia atau karyawan yang dibutuhkan. Adapun cara yang pada umumnya
digunakan dalam penarikan sumber daya manusia adalah baik itu dengan
alat media cetak atau elektronik, hal ini sebagaimana dikemukakan oleh
Soekidjo Notoatmodjo sebagai berikut
: 1. Iklan
2. Badan-badan penyaluran tenaga kerja
3. Lembaga-lembaga pendidikan
4. Organisasi-organisasi karyawan
5. Organisasi-organisasi profesional
6. Leasing (penyewaan)
7. Rekomendasi dari karyawan
8. Nepotisme Open house.
[6]
Berdasarkan pendapat tersebut, maka dalam penarikan sumber daya
manusia atau calon karyawan ada berbagai macam cara dan biasanya
disesuaikan dengan dedikasi yang muncul dari para perencana yang ada
dalam suatu organisasi atau instansi untuk penarikan karyawan baru.
Penarikan sumber daya manusia melalui iklan tujuannya adalah agar
rencana penarikan sumber daya manusia atau karyawan itu dapat sampai
pada seluruh lapisan, hal sesuai dengan pendapat Soekidjo Notoatmodjo,
bahwa “Menarik calon karyawan melalui iklan di media massa, baik
elektronik maupun media cetak mempunyai efektivitas tinggi, karena dapat
menjaring seluruh lapisan masyarakat pelamat, dan pelamar dapat lebih
banyak. Hal ini mempunyai beberapa keuntungan, antara lain organisasi
mempunyai kesempatan yang lebih luas untuk memilih calon karyawan yang
lebih baik
.[7]
Dalam penarikan calon karyawan atau pegawai melalui media massa ini
pada saat sekarang ini sudah banyak digunakan oleh perusahan atau
instansi pada umumnya, karena dengan menggunakan media massa baik
elektronik maupun cetak dapat sampai kepada seluruh lapisan masyarakat,
seperti surat khabar atau yang sejenisnya dapat menarik calon karyawan
atau pegawai yang jumlah pendaftar atau memasukan lamaran akan lebih
banyak, sehingga perusahaan atau instansi dapat memilih spesifikasi
calon karyawan atau pegawai yang akan diterima sesuai dengan posisi yang
dibutuhkan. Penarikan calon karyawan atau pegawai melalui iklan di
media cetak terbagi dua jenis, sebagaimana menurut Soekidjo Notoatmodjo,
yaitu “want ad dan blind ad. Want ad di mana organisasi dan bagaimana
cara melamar disebutkan dalam iklan itu. Cara ini digunakan untuk
memberikan kesempatan para calon karyawan untuk berkomunikasi langsung
kepada organisasi yang bersangkutan. Sedangkan cara blin ad yaitu tidak
menyebutkan nama dan alamat organisasi yang memerlukan karyawan. Lamaran
para pelamar biasanya dialamatkan ke P.O. Box. Cara ini digunakan untuk
menghindari membajirinya calon karyawan atau pelamat ke Kantor
organisasi yang bersangkutan.
[8]
Penarikan sumber daya manusia juga dapat dilakukan melalui
badan-badan penyalur tenaga kerja, baik pemerintah maupun swasta.
Menurut Soekidjo Notoatmodjo, bahwa “Di Indonesia di tiap-tiap provinsi
mempunyai kantor penempatan tenaga kerja (pemerintah) yang fungsinya
adalah menyalurkan tenaga-tenaga kerja yang telah mendaftarkan ke kantor
penempatan tersebut ke organisasi-organisasi, baik pemerintah maupun
swasta yang memerlukan calon karyawan. Bahkan beberapa organisasi
mewajibkan setiap pelamarnya untuk mencari “kartu kuning”, yaitu suatu
bukti bahwa ia telah terdaftar di kantor tenaga kerja.
”[9]
Dengan demikian bahwa proses penarikan tenaga kerja dalam memberikan
informasi lowongan atau kekosongan posisi di suatu organisasi atau
instansi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yakni dari mulai
memasang iklan sampai pada cara open house di mana orang-orang yang ada
di sekitar organisasi atau instansi diundang untuk datang.
D.
Kendala dalam Penarikan (Recruitment) Tenaga Kerja Dalam setiap
kegiatan tentunya tidak akan terlepas dari suatu kendala atau
hambatan,begitu juga dalam penarikan sumber daya manusia atau tenaga
kerja biasanya terjadi suatu kendala Langka tidaknya keahlian atau
keterampilan-keterampilan tertentu. Telah dimaklumi bahwa dalam
kehidupan organisasi yang semakin kompleks dewasa ini, semakin beraneka
ragam keahlian dan keterampilan yang diaperlukan.
4. Proyeksi angkata kerja pada umumnya. .
5.
Peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. Berbagai
peraturan perundan-undangan merupakan faktor eksternal yang harus
diperhitungkan dan ditaati. 6. Praktek rekrutmen oleh
organisasi-organisasi lain. Teori manajemen sumber daya manusia
menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya manusia diselenggarakan
berdasarkan norma-norma etika yang berlaku di masyarakat.
7.
Kendala terkahir yang perlu dipertimbangkan oleh para pencari tenaga
kerja ialah tuntutan tugas yang kelas akan dikerjakan oleh para pekerja
baru itu
.[11]
Berdasarkan uraian tersebut, bahwa kendala eksternal atau lingkungan
sekitar di mana tingginya tingkat pengangguran yang menyebabkan banyak
pelamar terhadap instansi untuk menjadi tenaga kerja, sehingga hal ini
dibutuhkan penyeleksian dalam penerimaan atau penarikan tenaga kerja,
sedangkan apabila sebaliknya tingkat tenaga kerja yang rendah akan
terjadi suatu kendalam dalam penarikan tenaga kerja akibatnya para
tenaga kerja akan merasa gampang memperoleh pekerjaan yang akhirnya
mereka jual mahal. Untuk mengatasi kendala tersebut, maka bahwa
organisasi atau instansi, khususnya lembaga pendidikan harus
memperhitungkan atau menanggulangi yang menjadikan terjadinya suatu
hambatan, di mana dalam penentuan kebijakan lembaga pendidikan harus
sesuai dengan harapan dari semua unsur, baik unsur guru sebagai tenaga
kependidikan, unsur siswa, dan unsur lingkungan masyarakat sekitar, di
samping itu harus dalam penarikan tenaga kependidikan harus yang
benar-benar mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai, dan
penempatan atau pembagian tugas yang sesuai dengan bidang keahlian yang
dimiliki oleh masing-masing, sehingga tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan dapat tercapai secara optimal.
2.Seleksi sumberdaya manusia untuk ritel
Setiap
selesai tugas pada satu bagian tertentu, mereka akan dievaluasi.
Demikian seterusnya hingga selesai masa evaluasi. Setelah masa evaluasi
berakhir, MT tidak akan lagi di-rolling. Itu berarti saatnya ia mulai
membangun karier di perusahaan tersebut. Bagaimana Proses Seleksi
Management Trainee? Program Management Trainee (MT) adalah program
pengembangan karyawan dengan pola rekrutmen dan jalur yang khusus.
Khusus karena kriteria rekrutmen yang dipakai biasanya lebih tinggi, dan
kadang kala sangat tinggi bila dibandingkan dengan kriteria rekrutmen
untuk karyawan dengan pola biasa. Mulai dari syarat indeks prestasi
(IPK) yang tinggi, pengalaman organisasi yang memadai, kemampuan atau
skill yang cukup, hingga penguasaan bahasa asing yang baik. MT dirancang
khusus untuk menyiapkan kader-kader pemimpin perusahaan di masa depan.
Oleh karena itu proses seleksi program MT dilakukan dengan sangat ketat,
baik dilaksanakan sendiri oleh bagian SDM perusahaan maupun dengan
menyerahkannya kepada konsultan terpercaya. Ribuan peserta yang
mengikuti proses seleksi disaring sehingga menyisakan sedikit kader
terbaik. Berbanggalah mereka yang berhasil lolos mengikuti program MT.
Tetapi jangan sombong, karena program ini setiap tahun selalu ada
sehingga anda bukan satu-satunya kader pimpinan masa depan. Karena
setiap tahun ada, maka biasanya disebut sebagai MT angkatan ke-xx.
Proses seleksi karyawan MT bisa berbeda-beda di tiap perusahaan.
Biasanya tahap-tahap yang akan Anda jalani selama proses seleksi atau
rekrutmen MT adalah:
TAHAP
1 : Psikotes atau online test Psikotes yang terdiri dari tes verbal,
tes numerikal, tes kepribadian. Dalam akhir tes ini biasanya Anda akan
disuruh menggambar (WARTEGG TEST) dan mengerjakan PAULI atau KREPLIN
TEST. Dari tes Pauli dan Kreplin ini dapat diketahui seberapa cepat,
tepat dan konsisten anda mengerjakan pekerjaan yang rumit dan
membutuhkan konsentrasi.
Pada
online test, perusahaan biasanya kerjasama dengan organisasi konsultan
dari Amerika atau manapun yang memberikan jasa online assessment test
dengan tujuan membantu HRD perusahaan menilai calon karyawan. Oleh
karena itu, online test biasanya menggunakan bahasa Inggris. Ketika Anda
sudah bertemu dengan pihak HRD, Anda akan diberikan undangan berisi
alamat situs yang harus Anda kunjungi serta access code agar Anda bisa
log in. Ketika sudah log in Anda akan diminta untuk mengisi sedikit
biodata dan kemudian dilanjutkan dengan mengikuti serangkaian tes yang
disediakan. Ingat bahwa dalam online test ini, setiap pertanyaan diberi
waktu, jadi Anda akan kehilangan pertanyaan tersebut jika terlalu lama
menjawabnya.
TAHAP 2 : Wawancara atau tes bahasa inggris TOEFL Wawancara dengan lembaga konsultan yang telah dipercaya oleh perusahaan. Biasanya wawancara menyangkut kegiatan organisasi dan kepribadian Anda. Karena ingin tahu pribadi anda dengan lebih detail, maka biasanya wawancara dengan konsultan ini sangat lama, bisa sampai satu jam lebih. Ada juga perusahaan yang meminta pelamar mengikuti tes bahasa inggris atau TOEFL yang diadakan baik oleh perusahaan itu sendiri kerjasama dengan lembaga kursus. Tujuannya tentu saja memilih karyawan dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik.
TAHAP 2 : Wawancara atau tes bahasa inggris TOEFL Wawancara dengan lembaga konsultan yang telah dipercaya oleh perusahaan. Biasanya wawancara menyangkut kegiatan organisasi dan kepribadian Anda. Karena ingin tahu pribadi anda dengan lebih detail, maka biasanya wawancara dengan konsultan ini sangat lama, bisa sampai satu jam lebih. Ada juga perusahaan yang meminta pelamar mengikuti tes bahasa inggris atau TOEFL yang diadakan baik oleh perusahaan itu sendiri kerjasama dengan lembaga kursus. Tujuannya tentu saja memilih karyawan dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik.
TAHAP
3 : Tes bakat (Assessment Test) Dalam tes ini biasanya akan berupa
diskusi kelompok, games kelompok, maupun presentasi individu. Dalam tes
kelompok dilakukan bersama dengan pelamar-pelamar lain. Ingat bahwa Anda
diminta untuk menjadi yang terbaik namun tetap membawa misi kelompok,
yaitu saling bekerjasama dan menghormati. Maksudnya, ketika melakukan
diskusi, Anda harus aktif namun tetap mendengarkan pendapat orang lain.
Sebagai informasi bahwa di perusahaan tertentu, diskusi dan presentasi
individu dilakukan dalam bahasa inggris.
TAHAP
4 : Wawancara dengan bagian SDM atau HRD Dalam wawancara ini biasanya
anda akan ditanya seputar bidang apa yang Anda minati, dan bidang apa
yang cocok untuk Anda.
TAHAP
5 : Wawancara dengan user/manajemen perusahaan Dalam wawancara ini
mungkin akan ada beberapa pertanyaan yang telah ditanyakan di
wawancara-wawancara sebelumnya. Namun pada intinya, di tahap ini
memungkinkan Anda ditanya seputar masalah gaji.
TAHAP
6 : Medical check up atau tes kesehatan Setiap Anda ingin menjalani tes
kesehatan, ada baiknya anda menjaga pola makan dan tidur anda sehari
sebelumnya. Karena jika Anda terlalu letih ketika tes kesehatan, akan
berakibat muncul hasil lab yang tidak diinginkan.
PERLU
DIINGAT bahwa Anda bisa saja gagal di TAHAP MANAPUN. Meskipun Anda
sudah sampai hingga tahap terakhir, Anda bisa gagal. Proses penyaringan
karyawan MT sangat ketat, sehingga perusahaan sangat selektif dalam
memilih yang terbaik. Tak jarang pada setiap kesempatan wawancara, Anda
akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan “jebakan” yang tujuannya adalah
“mencari kelemahan Anda” Sebagai peserta yang rata-rata adalah lulusan
fresh graduates baru dari perguruan tinggi, jelas peserta MT masih minim
keahlian, pengalaman, pemahaman soal sistem dan budaya kerja dan
kepemimpinan. Oleh karena itu, setelah lolos dari proses seleksi MT,
biasanya Anda akan mengikuti masa training selama 6 bulan hingga 1
tahun, tergantung dari kebijakan setiap perusahaan. Selama training,
anda akan belajar, dididik dan diawasi kinerjanya. Tidak jarang ada
karyawan yang tidak sanggup mengikuti masa training dan akhirnya keluar
dari perusahaan. Sehingga dia belum bisa disebut sebagai “lulusan MT” di
perusahaan tersebut, karena tidak mengikuti program training sampai
selesai. Program training MT dalam Bank swasta yang saya ketahui
sangatlah melelahkan, karena harus belajar setiap hari (seperti kuliah)
dan terdapat ujian-ujian tertulis atau lisan pada saat tertentu. Setelah
lulus belajar di kelas, biasanya akan ditempatkan di cabang-cabang
perusahaan atau istilahnya On the Job Training atau OJT. Setelah
mengikuti masa training hingga selesai (kira-kira 6-12 bulan), maka Anda
boleh dikatakan sebagai “lulusan MT perusahaan X”. Maka setelah itu
karir Anda akan berjalan lebih mulus dan bisa menempati posisi cukup
tinggi di perusahaan tersebut.
3.Pelatihan sumberdaya manusia untuk ritel
Dengan
kata lain, seakan-akan investasi di bidang SDM tidak membawa hasil.
Itulah mengapa ada perusahaan-perusahaan yang menerapkan program
rekrutmen lewat management trainee (MT). Tujuannya adalah mendapatkan
manajer yang memahami kondisi bisnis perusahaan tersebut. Biasanya para
MT akan memulai karier dari staf, lalu meningkat ke posisi supervisor,
eksekutif, dan akhirnya manajer. Kebanyakan yang direkrut untuk menjadi
MT adalah lulusan baru (fresh graduate). Mereka diberi pelatihan dan
pengetahuan tentang kondisi bisnis perusahaan tersebut. Maka, seorang
management trainee adalah peserta dari program tadi. MT merupakan proses
rekruitmen dan pencarian sumber daya manusia dengan kualitas tertentu
dalam bidang tertentu, yang dilatih untuk ‘menduduki’ posisi kunci dalam
sebuah perusahaan.
Menurut Inge Santoso, seorang trainer yang biasa memberikan pelatihan di sejumlah perusahaan besar, yang ditekankan pada MT adalah aspek psikologis. Para peserta pelatihan, katanya, biasanya tidak melihat potensi besar yang mereka miliki. ‘’Tugas kami di sini menyadarkan mereka untuk melihat potensi terpendam mereka,’’ ujarnya. Setelah sadar, mereka biasanya berusaha menggali dan memperbaiki kinerja mental mereka.Dampak setelah mengikuti pelatihan, mereka menjadi lebih giat dan bekerja secara total. Kehidupan pribadi dan sosial mereka, lanjut Inge, juga semakin bagus. Tidak ada latar belakang pendidikan khusus untuk menjadi seorang MT. Tergantung perusahaan, posisi untuk bidang apa yang dibutuhkan. Di Amerika, yang banyak membutuhkan MT adalah bidang ritel, jasa, dan department store.
Di Indonesia pencarian MT ditawarkan oleh perbankan. Hanya saja, nama MT menjadi businees development programme. Iwan Setiawan, trainer dari Forever Young Indonesia, sebuah perusahaan multi level marketing, mengungkapkan, yang ditekankan pada para MT adalah pengembangan karakter. Diharapkan, setelah mengikuti pelatihan, para anggota di perusahaannya akan lebih kuat dan stabil. ‘’Manusia tersusun dari fisik, mental, emosi, dan rohani. Satu sama lain harus saling terkait,’’ ujarnya. Di perusahaan tempat Iwan bekerja, profesi MT masuk dalam bagian training dan human resources development (HRD). Itu tidak selalu berlaku demikian, tergantung kebijakan masing-masing perusahaan. Tergantung kebijakan perusahaan juga berlaku pada lamanya program pelatihan yang diberikan untuk MT. Ada perusahaan yang mewajibkan MT mengikuti pelatihan antara 1-2 tahun dengan diberi pengetahuan tentang pengendalian bisnis, pembuatan kebijakan, rencana manajerial, dan membangun jaringan komunikasi. Ada perbedaan antara masuk kerja pertama sebagai karyawan dan MT. Bila sebagai karyawan, seseorang harus menjalani masa percobaan. Sementara bila sebagai MT, ia akan menjalani masa evaluasi. Sebagai tambahan, peserta MT biasanya akan diputar tempat tugasnya. Dengan kata lain, mereka menjalani sistem perputar
Menurut Inge Santoso, seorang trainer yang biasa memberikan pelatihan di sejumlah perusahaan besar, yang ditekankan pada MT adalah aspek psikologis. Para peserta pelatihan, katanya, biasanya tidak melihat potensi besar yang mereka miliki. ‘’Tugas kami di sini menyadarkan mereka untuk melihat potensi terpendam mereka,’’ ujarnya. Setelah sadar, mereka biasanya berusaha menggali dan memperbaiki kinerja mental mereka.Dampak setelah mengikuti pelatihan, mereka menjadi lebih giat dan bekerja secara total. Kehidupan pribadi dan sosial mereka, lanjut Inge, juga semakin bagus. Tidak ada latar belakang pendidikan khusus untuk menjadi seorang MT. Tergantung perusahaan, posisi untuk bidang apa yang dibutuhkan. Di Amerika, yang banyak membutuhkan MT adalah bidang ritel, jasa, dan department store.
Di Indonesia pencarian MT ditawarkan oleh perbankan. Hanya saja, nama MT menjadi businees development programme. Iwan Setiawan, trainer dari Forever Young Indonesia, sebuah perusahaan multi level marketing, mengungkapkan, yang ditekankan pada para MT adalah pengembangan karakter. Diharapkan, setelah mengikuti pelatihan, para anggota di perusahaannya akan lebih kuat dan stabil. ‘’Manusia tersusun dari fisik, mental, emosi, dan rohani. Satu sama lain harus saling terkait,’’ ujarnya. Di perusahaan tempat Iwan bekerja, profesi MT masuk dalam bagian training dan human resources development (HRD). Itu tidak selalu berlaku demikian, tergantung kebijakan masing-masing perusahaan. Tergantung kebijakan perusahaan juga berlaku pada lamanya program pelatihan yang diberikan untuk MT. Ada perusahaan yang mewajibkan MT mengikuti pelatihan antara 1-2 tahun dengan diberi pengetahuan tentang pengendalian bisnis, pembuatan kebijakan, rencana manajerial, dan membangun jaringan komunikasi. Ada perbedaan antara masuk kerja pertama sebagai karyawan dan MT. Bila sebagai karyawan, seseorang harus menjalani masa percobaan. Sementara bila sebagai MT, ia akan menjalani masa evaluasi. Sebagai tambahan, peserta MT biasanya akan diputar tempat tugasnya. Dengan kata lain, mereka menjalani sistem perputar
4.Rencana penggajian sumber daya manusia untuk ritel
Banyak
perusahaan yang berangkat dalam proses pengembangannya hanya melihat
pada aspek SDM (Sumber Daya Manusia) adalah kebijakan yang bersifat
biaya. Mengapa dianggap demikian? Banyak perusahaan melihat bahwa
sumber daya manusia atau karyawan di dalamnya adalah beban, mulai dari
penggajian, belum lagi kewajiban seperti Jamsostek ataupun kewajiban
untuk memberikan tunjangan lainnya. Lalu muncul suatu pemahaman bahwa
sumber daya manusia adalah suatu bentuk investasi yang penting untuk
dikelola sehingga definisi human resources (sumber daya manusia) menjadi
human capital (investasi manusia).
Dalam
proses pengembangan sumber daya manusia, hal yang menjadi pertimbangan
penting dalam suatu perusahaan adalah kebijakan yang diterapkan untuk
pengembangan manusia di mana disebutkan karyawan yang bekerja dalam
perusahan memang bisa dikembangkan menjadi investasi bagi perusahaan itu
sendiri. Kebijakan yang diterbitkan oleh perusahaan itu sendiri
haruslah memuat suatu kepentingan jangka panjang yang nantinya dituntut
adanya suatu komitmen jangka panjang terhadap proses pengembangan
perusahaan itu sendiri. Kebijakan yang diterbitkan oleh perusahaan
terhadap pengembangan sdm meliputi kebijakan (1) Sistem numerasi (2)
Sistem manajemen performa (3) Sistem pengembangan sumber daya manusia
(4) Sistem budgeting terhadap operasional dari proses pengelolaan sumber
daya manusia (5) Peraturan perusahaan dan persyaratan yang terkait
dengan pengelolaan sumber daya manusia.
Salah
satu kesalahan yang seringkali dilakukan oleh perusahaan adalah
kemampuan untuk memastikan konsistensi kebijakan untuk dijalankan. Hal
apa yang menjadi alasan untuk kemunculan ketidaksesuaian konsistensi
dari kebijakan itu sendiri? Pertama, situasi dan kondisi yang
menyebabkan penyimpanan terhadap sistem dapat muncul dimana antara
kebutuhan untuk mengoptimalkan sdm ditekan oleh adanya kebutuhan
pengembangan sdm itu sendiri. Sehingga dengan kondisi ”terpaksa”
kebijakan terhadap sdm itu sendiri dilanggar. Kedua, adanya conflict of
interest yang dimunculkan oleh oknum-oknum baik itu internal perusahaan
maupun dari pihak manajemen itu sendiri yang menyebabkan pelanggaran
dengan sengaja dilakukan. Ketiga, adanya perubahan dari manajemen
perusahaan yang menyebabkan kebijakan sudah tidak memadai untuk
menghadapi aspek kompetisi dengan dunia luar.
Ketidakkonsistenan
dalam menjalankan manajemen sumber daya manusia dapat menyebabkan
bumerang yang dapat membunuh strategi dalam perusahaan itu sendiri.
Dimana karyawan mulai mempertanyakan konsistensi kebijakan sumber daya
manusia yang dijalankan perusahaan. Konsep dan aspek adil di dalam
organisasi harus dapat memastikan bahwa sistem kebijakan sumber daya
manusia yang dijalankan dapat mengembangkan dan menumbuhkan persaingan
yang positif dalam perusahaan sehingga dapat meningkatkan performa dari
organisasi.
Suatu
sistem yang baik, adalah sistem yang dapat teraudit. Sistem manajemen
sumber daya manusia, harus dibangun dengan mengikuti aturan ini. Sistem
sumber daya manusia yang tepat adalah sistem yang dibangun dengan
mengedepankan konsep PDCA (Planning- Do- Check- Action). Apa yang
dimaksud dengan konsep tersebut.
(a) Planning
Dalam
menyusun sistem harus ditetapkan tujuan dari suatu sistem tersebut
dibuat, serta dijelaksanakn latar belakang yang menjelaskan sistem
tersebut dibangun.
Contoh:
SOP (Standard Operating Procedure) sistem rekruitmen (penerimaan
karyawan). Pada saat penyusunan sistem, harus dilihat tujuan dari
sistem tersebut dibangun, ruang lingkup dari SOP itu sendiri meliputi
jenis rekruitmen internal atau eksternal maupun aspek pengembangan
sistem rekruitmen lainnya.
(b) Do
Bagaimana
sistem tersebut dijalankan. Seperti menjelaskan pejabat mana yang
memiliki kewenangan untuk menjalankan proses ini, lalu bagaimana proses
tersebut dijalankan, detail terhadap sistem dokumentasi tersebut
dijalankan juga menjadi bagian yang penting untuk dijelaskan.
(c) Check
Bagaimana
sistem tersebut dievaluasi maupun diaudit untuk memastikan sistem
tersebut dijalankan. Suatu sistem yang baik harus memastikan adanya
proses verifikasi (pemeriksaan ulang) ataupun validasi (pengesahan).
Seperti proses penyelesaian sistem kompensasi, harus dipastikan adanya
mekanisme pemeriksaan sebelum proses dijalankan. Setelah proses
dijalankan pun juga harus dipastikan adanya suatu proses pemeriksaan
yang intensif untuk memastikan bahwa mekanismen evaluasi tersebut
dijalankan.
(d) Action
Penetapan
tindakan perbaikan dan pencegahan yang dilakukan untuk mengantisipasi
apabila sistem yang dimaksud tidak dijalankan sesuai dengan standar
persyaratan yang telah ditetapkan.
Audit
adalah salah satu bentuk dari proses check itu sendiri. Sedikit
berbeda dibandingkan dengan konsep verifikasi dan validasi. Dalam
proses verifikasi dan validasi proses dijalankan sebelum suatu bentuk
proses sudah dijalankan. Sehingga mencoba dipastikan bahwa proses
tersebut sudah mengikuti aturan kesesuaiannya sebelum diimplementasikan.
Contoh adalah mekanisme penggajian, dalam proses dan mekanisme
penggajian. Sebelum system penggajian tersebut dijalankan harus
dipastikan adanya verifikasi dari pejabat yang berwenang, mungkin di
sini adalah HR & GA Manager yang melakukan proses pemeriksaan
terhadap kesesuaian data kompensasi tersebut dan kemudian pengesahan itu
sendiri dijalankan oleh Finance Accounting Manager sebagai pejabat yang
memiliki authorisasi untuk melakukan proses transaksi.Komitmen yang
dikembangkan itu sendiri meliputi:
(1) Sistem kompensasi
Sistem
kompensasi memuat seluruh faktor numerasi yang diterapkan oleh
perusahaan. Seperti bagaimana mekanisme penggajian ditetapkan, apakah
termuat informasi yang terkait dengan pengemangan antara sistem golongan
jabatan dengan sistem penggajian yang ditetapkan dalam perusahaan itu
sendiri. Apakah penyusunan sistem kompensasi tersebut telah sesuai
dengan konsep standar persyaratan yang dimaksud. Tidak terdapat
penyimpangan yang terkait dengan sistem numerasi yang dimaksud, seperti
tata cara pembayaran, bukti-bukti atau dokumen yang dibutuhkan untuk
mengembangakan sistem kompensasi yang dimaksud. Lalu bagaimna cara
mengauditnya? Auditor dapat melakukan proses memastikan kesesuaian
antara kebijakan dan proses pelepasan kompensasi itu sendiri
dijalankan. Dalam beberapa kasus, juga dapat melakukan proses validasi
dan verifikasi terhadap individu yang menerima transaksi tersebut.
(2) Sistem Manajemen Performa
Proses
audit yang dijalankan adalah melihat kesesuaian antara indikator yang
mencapai target tersebut ataupun realisasi yang terukur. Konsep
pemeriksaan lebih melihat pada aspek obyektifitas dari sistem manajemen
performa yang dijalankan tersebut untuk melihat aspek kesesuaian yang
ada dalam konsep pengukuran prestasi karyawan. Bukti-bukti
terdokumentasi harus diperiksa secara teliti untuk melihat kesesuaian
dan obyektifitas dari penilaian.
(3) Sistem pengembangan sumber daya manusa
Unit
kerja SDM sangat erat peranannya dalam proses pengembangan sumber daya
manusia. Audit pada area kerja ini memiliki fokus untuk memastikan
bahwa SOP pelatihan dijalankan. Seperti proses dalam penyusunan program
pelatihan, individu yang menjalankan pelatihan dan efektifitasnya.
Nilai efektifitas ini sangat penting untuk teraudit untuk memastikan
bahwa kondisi proses operasional pengembangan sumber daya manusia telah
sejalan dan berbasis dengan kompetensi SDM yang ada di lapangan.
(4) Sistem budgeting
Dalam
proses pengembangan sumber daya manusia, suatu perusahaan harus
menerapkan suatu konsep budgeting yang kemudian dikembangkan menjadi
bentuk pengembangan strategis pelaksanaannya. Budgeting dari proses ini
harus dipastikan dijalankan sesuai dengan peraturan yang telah
ditetapkan. Bagaimana proses penyusunan peraturan perundangan adalah
kesesuaian pelaksanaannya dan kesesuai terhadap persyaratan peraturan
dan perundang-undangan.
Bagaimana
dengan penjelasan audit yang telah disampaikan, apabila masih
diperlukan pertimbangan lanjutan terhadap proses audit ini. Konsultan
kami akan siap membantu dalam melakukan proses implementasi audit SDM
yang dijalankan di lapangan. Proses audit ini nanti akan dilengkapi
dengan laporan audit yang nantinya sebaiknya ditindaklanjuti oleh
perusahaan yang memiliki alokasi budget dijalankan.
(5) Peraturan perusahaan dan persyaratan peraturan perundang-undangan
Mekanisme
penyusunan peraturan adalah suatu kebijakan strategis yang bersifat
jangka panjang dan terkait dengan peraturan dan perundang-undangan. Hal
yang sangat perlu dicermati dalam proses pengembangan dan atau
hambatan, hal ini muncul baik itu dari organisasi atau instansi itu
sendiri maupun lingkungan yang ada di sekitarnya, sebagaimana menurut
Sondang P. Siagian mengemukakan sebagai berikut: “Kiranya perlu
ditekankan terlebih dahulu bahwa dalam menjalankan tugasnya mencari
calon-calon pegawai, para pencari tenaga kerja suatu organisasi harus
menyadari bahwa mereka menghadapi berbagai kendala. Berbagai penelitian
dan pengalaman banyak orang dalam hal rekrutmen menunjukkan bahwa
kendala yang biasa dihadapi itu dapat mengabil tiga bentuk, yaitu
kendala yang bersumber dari organisasi bersangkutan sendiri, kebia
saan para pencari tenaga kerja sendiri dan fakto-faktor eksternal yang bersumber dari lingkungan di mana organisasi bergerak.”
saan para pencari tenaga kerja sendiri dan fakto-faktor eksternal yang bersumber dari lingkungan di mana organisasi bergerak.”
[10]
Kendala atau hambatan yang muncul dari dalam organisasi atau instansi
itu biasanya berkaitan dengan kebijakan yang ada dalam penarikan atau
perekrutan tenaga kerja, di mana bahwa dalam organisasi itu posisi atau
kedudukan yang ada sudah terisi oleh karyawan yang sudah ada dalam
organisasi itu sendiri, sehingga tidak menerima lagi lowongan bagi
pencari kerja baru. Di samping itu kebijakan laind dalam organisasi atau
instansi itu sendiri mengenai tentang imbalan (upah dan gaji) yang
diberikan yang kurang sesuai dengan harapan para tenaga kerja. Dalam
pelaksanaan penarikan tenaga kerja para pencari tenaga kerja yang
mempunyai kebiasan-kebiasaan yang dilakukan, di mana pada penarikan
tenaga kerja terjadinya suatu kesalahan dan dari kesalahan tersebut
muncul suatu anggapan yang negatif sehingga proses untuk penarikan
sumber daya berikutnya dihentikan karena akibat dari kesalahan dalam
penarikan tenaga kerja sebelumnya. Selanjutnya bahwa kondisi lingkungan
di sekitar organisasi atau instansi itu sendiri dapat mempengaruhi dalam
proses penarikan atau recruitment tenaga kerja perlu memperhatikan
faktor-faktor eksternal, sebagaimana menurut Sondang P. Siagian, sebagai berikut :
1.
Tingkat pengangguran. Dalam hal tingkat pengangguran yang tinggi, para
pencari tenaga kerja dapat bertindak lebih selektif karena banyak
pancari pekerjaan yang melamar, mungkin banyak di antaranya yang
memenuhi persyaratan melebihi ketentuan organisasi untuk mengisi
lowongan yang tersedia
2.
Kedudukan organisasi pencari tenaga kerja baru vis a vis organisasi
lain yang bergerak di bidang kegiatan yang sama atau menghasilkan barang
dan jasa sejenis.



Halo, saya Ainah Ann, saat ini saya tinggal di indonesia. Saya hampir muak dengan kehidupan beberapa bulan yang lalu karena saya membutuhkan uang untuk membayar tagihan saya, dan karena situasi saya, saya sangat ingin mendapatkan pinjaman untuk membayar tagihan saya yang sudah dikeluarkan dan membiayai bisnis saya. Semua usaha saya untuk mendapatkan pinjaman dari perusahaan pinjaman swasta dan korporasi internet ini benar-benar sia-sia.
BalasHapusPoin terakhir saya untuk mengatakan selamat tinggal pada pencarian pinjaman adalah ketika Tuhan menyerahkan kepada saya sarana rezeki saya untuk bisnis dan mata pencaharian saya sampai saat ini, yang memberi saya pinjaman sebesar 750 juta Rupee Indonesia. Saya hanya harus bersaksi secara online ini karena saya tahu ada banyak orang di luar sana yang mencari jenis perbuatan baik ini, dan pada saat yang sama saya harus menceritakan dunia tentang kesempatan besar yang menanti mereka.
Mengamankan pinjaman tanpa jaminan, Tidak ada pemeriksaan kredit, tidak ada penandatanganan, dan tidak ada biaya pinjaman, hanya dengan tingkat bunga 2% saja dan rencana pembayaran dan jadwal yang lebih baik. Jangan buang waktu lagi, dan bayar tagihan Anda dengan bantuan Maureen Kurt Financial Service. Anda dapat menghubungi dia melalui (maureenkurtfinancialservice@gmail.com). Dia wanita yang baik hati dan kebajikan, jadi jangan takut untuk bertemu dengannya untuk meminta bantuan. Jika ada keraguan atau ketakutan, Anda selalu bisa menghubungi saya melalui ainahann10@gmail.com